ANALISIS WACANA MENURUT VAN DIJK DAN NORMAN FAIRCLOUGH

ANALISIS WACANA MENURUT VAN DIJK DAN NORMAN FAIRCLOUGH
Pramedya Octaviani
NIM 156150
Pendahuluan
Van Dijk memanfaatkan dan mengambil analisis linguistik tentang kosakata, kalimat, proposisi dan paragraf untuk menjelaskan dan memaknai suatu teks. Seperti juga van Dijk, analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyaan besar, bagaimana menghubungkan teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro. Berikut akan dijelaskan tentang analisis wacana menurut Van Dijk dan Norman Fairclough.
Kajian Teori
Menurut Eriyanto (2011:221) menyatakan bahwa Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal, yaitu kajian wacana yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut. Hakikat analisis wacana pada dasarnya adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada konteks wacana di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk lebih besar dari kalimat.
Menurut Van Djik dalam Eriyanto (2011:221) penelitian atas wacana tidak cukup didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya berupa hasil dari praktek produksi dimana teks-teks tersebut nerupakan bentuk proses dari kognisi sosial, sedangkan kognisi sosial sendiri merupakan bentuk dari pendekatan lapngan psikologi sosial. Pendekatan ini merupakan pendekatan analisis wacana yang menjelaskan tentang struktur dan proses terbentuknya suatu teks.
Penelitian mengenai wacana tidak bisa mengiklusi seakan-akan teks adalah bidang yang kosong, sebaliknya ia adalah bagian kecil dari struktur besar masyarakat. Pendekatan yang dikenal sebagai kognisi sosial ini membantu memetakan bagian produksi teks yang melibatkan proses yang kompleks tersebut dapat dipelajari dan dijelaskan. Analisis Van Djik adalah menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagian struktur teks dalam strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. pada level kognisi sosial dipelajari proses teks berita dengan melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Analisis Van Djik di sini menghubungkan analisis tekstual yang memusatkan perhatian pada teks ke arah analisis yang kooperehensif.
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur atau tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro yaitu makna umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan. Kedua, superstruktur yaitu struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks. Ketiga, struktur mikro, adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase dan gambar. Menurut Van Dijk, meskipun terdiri atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan satu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Struktur teks dapat digambarkan sebagai berikut:
Struktur Makro
Makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari topik atau tema yang diangkat oleh suatu teks.
Superstruktur
Kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan.
Struktur Mikro
Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks.
Pemakaian kata-kata tertentu, kalimat, gaya tertentu bukan semata dipandang sebagai cara berkomunikasi melainkan sebagai politik berkomunikasi, suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum, menciptakan dukungan, memperkuat legitimasi, dan menyingkirkan lawan atau penentang. Struktur wacana adalah cara yang efektif untuk melihat proses retorika dan persuasi yang dijalankan ketika seseorang menyampaikan pesan.
Analisis Wacana Menurut Norman Fairclough
Menurut Eriyanto (2012 : 285), seperti juga van Dijk, analisis Norman Fairclough didasarkan pada pertanyan besar, bagaimana menghubungkan teks yang mikro dengan konteks masyarakat yang makro. Norman Fairclough membangun suatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistic dan pemikiran sosia politik, dan secara umum diintegrasikan pada perubahan sosial. oleh karena itu, model yang dikemukakan oleh Norman Fairclough ini sering disebut dengan model perubahan sosial (social change).
Norman Fairclough mengemukakan bahwa wacana merupakan sebuah praktik sosial dan membagi analisis wacana ke dalam tiga dimensi yaitu text, discourse practice, dan sosialcultural practice. Text berhubungan dengan linguistik, misalnya dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat, juga koherensi dan kohesivitas, serta bagaimana antarsatuan tersebut membentuk suatu pengetian. Discourse practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks; misalnya, pola kerja, bagan kerja, dan rutinitas saat menghasilkan berita. Social practice,dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks; misalnya konteks situasi atau konteks dari media dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya politik tertentu.
Penutup
teori Fairclough, teori van Dijk masih menjelaskan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa dalam teks meski tidak mendetail. Kedua teori ini juga memiliki kesamaan yaitu pembiasan masalah, pembiasan penyebab dan yang menjadi penyebab dari terjadinya penyebab baru secara mendetail. Keduanya sama-sama menutupi sebuah masalah lain dan berusaha memarjinalkan satu pihak saja.
Daftar Pustaka
Eriyanto. 2011. Analisis Wacana (Pengantar Analisis Teks Media). Yogyakarta : PT. LkiS Printing Cemerlang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS WACANA BERDASARKAN TUJUAN KOMUNIKASI

JENIS-JENIS WACANA Berdasarkan Saluran Komunikasi dan Peserta Komunikasi