TEKS, KOTEKS, dan KONTEKS



TEKS, KOTEKS, dan KONTEKS
Oleh Pramedya Octaviani
Perihal wacana dalam bidang kebahasaan wacana merupakan unit yang paling besar diantara unit-unit lainnya, dalam wacana sendiri dibentuk melalui srtuktur kalimat yang salig berhubungan satu sama lainnya, kalimat yang telah dirangkai oleh penulis aka membentuk teks, dalam teks pula terdapat koteks juga konteks. Ketiganya memiliki makna dan ciri-ciri masing-masing. Oleh karena itu pembahasan kali ini menenai teks,koteks,dan konteks.
A.    Hakikat Teks
Luxemburg (1989) yang dikutip Tedi dalam makalahnya menyatakan bahwa teks ialah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis, dan pragmatik merupakan satu kesatuan.
Kridalaksana (2011:238) dalam Kamus Linguistiknya menyatakan bahwa teks adalah
(1) satuan bahasa terlengkap yang bersifat abstrak,
 (2) deretan kalimat, kata, dan sebagainya yang membentuk ujaran,
 (3)  ujaran yang dihasilkan dalam interaksi manusia.
Pengertian mengenai teks menurut Luxemburg (1989) dan Kridalaksana(2011:238)  dalam kamus linguistik secara garis besar keduanya menyatakan bahwa teks merupakan bahasa yang berbentukmtertulis yang didalamnya terdapat kalimat (sintaksis) dan berupa ujaran atau tindak tutur (Pragmatik).
Komunikasi baik lisan maupun tertulis seharusnya dapat dimengerti oleh penerima pesan, agar pesan yang disampaikan tidak mengalami kesalahfahaman. Oleh karena itu pentingnya mempelajari ciri-ciri teks, berikut penjelasannya:
a.      Kohesi: kesatuan makna
Contohnya: kohesi gramatikal: konjungsi temporal=”lalu”
b.      Koherensi: kepaduan kalimat (keterkaitan antarkalimat)
 Contohnya: ada hubungan alasan-sebab.
B.     Hakikat Koteks
Kridalaksana (2011:137), koteks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mendahului dan/atau mengikuti sebuah unsur lain dalam wacana.
Sebagai contoh pada kalimat “Selamat Datang” dan “Selamat Jalan” yang terdapat di
pintu masuk suatu kota, daerah, atau perkampungan.
Kedua kalimat di atas memiliki keterkaitan. Kalimat “Selamat Jalan” merupakan
ungkapan dari adanya kalimat sebelumnya, yaitu “Selamat Datang”. Kalimat
Selamat Datang” dapat dimaknai secara utuh ketika adanya kalimat sesudahnya,
yaitu “Selamat Jalan”, begitu juga sebaliknya. Jadi sesuai dengan pengertian yang terdapat pada kamus Kridalaksana mengungkapkan bahwa koteks adalah kalimat yang meengikuti atau mendahului sebuah unsur yang lain. Dalam contoh diatas cirri koteks memilii kedudukan yang setara atau kordinatif, karena pada awalnya kita akan menemui kalimat selamat datang berikutnya kalau kita menemui kalimat selamat jalan  pada saat meninggalkan suatu tempat atau perkampungan. Kata selamat datang dengan selamat jalan  merupakan suatu hubungan kesetaraan.

C.    Hakikat Konteks
Mulyana (2005: 21) yang mengartikan konteks ialah sesuatu yang dianggap sebagai sebab atau alasan terjadinya suatu pembicaraan.
Kridalaksana (2011:134) mengartikan konteks adalah (1) aspek-aspek lingkungan fisik atau sosial yang kait mengait dengan ujaran tertentu, (2) pengetahuan yang sama-sama memiliki pembicara dan pendengar sehingga pendengar paham apa yang dimaksud pembicara.
Pengertian konteks menurut Mulyana dan Kridalaksana memeiliki pndangan yang berbeda mengenai konteks, Mulyana mengungkapkan konteks ialah suatu yang dianggap sebagai sebab terjadinya suatu pembicaraan. Sedangkan menurut Kridalaksana dalam kamus linguistik menginkapkan bahwa konteks ialah aspek lingkugan fisik ataupun sosial yang memiliki keterkaitan dengan pembicaraan dengan jalan kedua belah pihak(kominakator dan komunikan) dapat memahami maksudyang dibicarakan. Saya cenderung setuju dengan pendapat yang diungkapkan oleh Kridalaksana bahwa konteks terbentuk akibat adanya aspek lingkungan fisik serta sosial, aspek ligkungan memang cukup berpengaruh dalam pembentukan ujaran ataupun hasil tulisan. Lebih tepatnya penggunaan suatu  kata dalam sebauh kalimat memiliki makna atau maksud yang berbeda tergantung dengan aspek lingkunagan yang dibentuk dalam kalimat atau ujaran sebelumnya. Setelah memahami hakikat mengenai konteks. Berikut penjelasan mengani macam-macam konteks :
A.  Konteks Situasi
Halliday & Hasan (1994) mengatakan yang dimaksud dengan konteks situasi adalah lingkungan langsung tempat teks itu benar-benar berfungsi. Atau dengan kata lain, kontek situasi adalah keseluruhan lingkungan, baik lingkungan tutur (verbal) maupun lingkungan tempat teks itu diproduksi (diucapkan atau ditulis).
Hymes dalam Brown & Yule (1983: 38-39) memberi penjelasan lebih rinci mengenai ciri-ciri konteks yang relevan dalam konteks situasi, yaitu:
a)      Pembicara/Penulis (Addressor)Pembiacara atau penulis adalah seseorang yang memproduksi/menghasilkan suatu ucapakan.
b)      Pendengar/pembaca (Addresse)Pendengar/pembaca adalah seseorang yang menjadi mitra tutur/baca dalam suatu berkomunikasi atau dapat dikatakan seseorang yang menjadi penerima (recepient) ujaran.
c)      Topik pembicaraan (Topic)Mengetahui topik pembicaraan, akan mudah bagi seseorang pendengar/pembaca untuk memahami pembicaraan atau tulisan.
d)     Saluran (Channel)Selain partisipan dan topic pembicaraan, saluran juga snagat penting di dalam menginterpretasikan makna ujaran. Saluran yang dimaksud dapat secara lisan atau tulisan.
e)      Kode (Code)Kode yang dimaksud adalah bahasa, dialek atau gaya bahasa seperti apa yang digunakan di dalam berkomunikasi. Misalnya, jika saluran yang digunakan bahasa lisan.
f)       Bentuk Pesan (Message Form)Pesan yang disampaikan haruslah tepat, karena bentuk pesan ini bersifat penting.
g)      Peristiwa (Event)Peristiwa tutur tentu sangat beragam. Hal ini ditentukan oleh tujuan pembicaraan itu sendiri
h)     Tempat dan waktu (Setting)Keberadaan tempat, waktu, dan hubungan antara keduanya, dalam suatu peristiwa komunikasi dapat memerikan makna tertentu. Di mana suatu tuturan itu berlangsung; di pasar, di kantot, dan lainna. Demikian juga, kapan suatu tuturan itu berlangsung; pagi hari, siang hari, suasana santai, resmi, tegang, dan lainnya.
B.     Konteks Pengetahuan
Schiffirin (2007: 549) mengatakan bahwa teori tindak tutur dan pragmatik memandang konteks dalam istilah pengetahuan, yaitu apa yang mungkin bisa diketahui oleh antara si pembicaradengan mitra tutur dan bagaimana pengetahuan tersebut membimbing/menunjukkan penggunaan bahasa dan interpretasi tuturannya
Kesimpulan
Berdasarkan beberapa pendapat disimpulkan bahwa teks adalah suatu kesatuan bahasa baik lisan maupun tulisan yang memiliki isi dan bentuk yang saling  berkaitan. Ko-teks diartikan sebagai kalimat atau unsur-unsur yang mempunyai keterkaitan atau kesejajaran  dengan teks yang didampinginya (teks lain). Konteks adalah ruang dan waktu yang meliputi lingkungan fsik dan sosial tertentu dalam memahami  suatu teks, yakni kejadian-kejadian nonverbal  atau keseluruhan teks itu.


Sumber : 
Schiffrin, Deborah.2007.kajian wacana : pustaka pelajar .
Kridalaksana, Harimurti. (2011). Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta. Gramedia    Pustaka Utama.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS WACANA BERDASARKAN TUJUAN KOMUNIKASI

JENIS-JENIS WACANA Berdasarkan Saluran Komunikasi dan Peserta Komunikasi