wacana bahasa indonesia



HAKIKAT WACANA dan KEDUDUKAN WACANA dalam LINGUISTIK
Oleh Pramedya Octaviani

   A.   Pendahulaun
Wacana merupakan suatu hal yang tak lepas dari kehidupan kita, karena dalam kehidupan kita tidak lepas dari wacana. Misalnya dalam tindak tutur, surat kabar, dan  jenis teks lainnya termasuk dalam wacana, secara umum wacana sendiri merupakan unit terbesar dari linguistik. Lalu apa perbedaan antara wacana teks-teks lainnya?
Baiklah kali ini kita akan mengulas mengenai hakikat dan kedudukan wacana dalam linguistik. Pertama kita pahami terlebih dahulupengertian wacana menurut para ahli. Berikut penjelasannya :
A. Hakikat Wacana Menurut Para Ahli
·         Menurut ismail Maharimin (dalam Alex Sobur :2009) mengartikan wacana sebagai “Kemampuan untuk maju (dalam pembahasan)menurut urut-urutan yang teratur dan semestinya”, dan “komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur (Marahimin,1994:26).
Dari pendapat Ismail Muharimin (dalam Alex Sobur:2009) kita dapat memperoleh kesimpulan bahawa wacana merupakan komunikasi yang berbentuk tulisan maupun lisan, garis besar yang diperoleh yakni wacana adalah komunikasi.
·         Menurut Henry Guntur tarigan  (dalam Alex Sobur :2009) berpendapat bahwa  wacana dipergunakan untuk mencakup bukan hanya percakapan atau obrolan, tetapi juga pembicaraan di muka umum, tulisan, serta upaya-upaya formal seperti laporan ilmiah dan sandiwara atau lakon “  (Tarigan,1993:23) atau penjelasan.
Dari pendapat Henry Guntur Tarigan (dalam Alex Sobur :2009) secara garis besar wacana merupakan bentuk lain dari tulisan.
·         Menurut Samsuri (dalam sudjiman,1993:6) yang menyatakan bahawa “wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi  ini dapat menggunakan bahasa lisan dan dapat pula memakai bahasa tulisan.”
Pendapat mengenai wacana Samsuri (dalam sudjiman,1993:6)wacana memiliki keterkaitan anatara yang satu dengan yang lainnya.
Bedasarkan ketiga pendapat tersebut kita dapat memberi kesimpulan bahawa wacana ditekankan pada komunikasi yang berbentuk lisan maupun tulisan.  Wacana  mempunyai tujuan atau topik  yang dibahas serta ada kesinambungan antara satu dengan lainnya. Terutama dalam penulisan wacana harus terdapat kohsi dan koherensi disetiap paragrafnya. Namun ada beberapa orang yang masih belum bisa membedakan antara teks dengan wacana. Secara garis besar wacana sendiri merupakan unit tertinggi. Jadi dapat diartikan bahwa suatu teks dapat diartikan sebagai wacana, namun semua wacana bukan berarti dapat dikataan sebagai teks. Jadi suatu teks yang dapat dikatan sebagai wacana adalah teks yang mempunyai tujuan atau topik yang dibahas, pembahasan topik dari awal sampai akhir harus koheren dan mempunyai kohesi. Bagaimana membedakan antara wacana dengan teks yang lain dengan  mudah ? Berikut kita dapat mencermati ciri-ciri yang terdapat wacana.
  B. Ciri-Ciri Wacana
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan ciri dan sifat sebuah wacana sebagai berikut.
1.      Wacana dapat berupa rangkaian kalimat ujar secara lisan dan tulis atau rangkaian tindak tutur.  Syamsudin berpendapat bahwa wacana merupakan kalimat ujar secara lisan atau tulis atau rangkaian tindak tutur, maksudnya dalam wacana tidak harus berwujud tulisan melainkan percakapan atau potongan dialog yang dilakukan dalam komunikasi sehari-sehari.
2.      Wacana mengungkap suatu hal (subjek). Maksudnya wacana mengungkapkan tujuan atau membahas mengenai suatu topiktertentu. Misalnya topik mengenai bencana alam dsb.
3.      Penyajian  teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya, maksudnya dalam penyajian wacana harus memiliki tahap-tahap(sistematis) serta memiliki kesinambungan serta hubungan suatu topik masing-masing paragraf.
4.      Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu, penulisan wacana haruslah runtut, kesinambunagan antara alinia satu dengan yang lain.
5.      Dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental, unsur segemntal berhubungan dengan ciri fisik wacana yang dapat dianalisis, yang berupa fonem,morfem,kata,kalimat. Unsur non segmental yakni unsur yang  dapat dibentuk oleh tekanan suara atau intonasi, dari segi para bahasa wacana dibentuk oleh gerakan tubuh,mimik dan suara-suara bermakna. Secara garis besar unsurnon segmental berhubungan dengan tanda baca.
    D. Jenis-jenis Wacana
-          Wacana Prosa adalah wacana yang terdiri dari uraian-uraian ide, gagasan atau pikiran yang mengandung sebuah tujuan penyampaian. Cobtoh : Wacana argumentasi, wacana eksposisi,wacana deskripsi, wacana persuasif.
-          Wacana puisi wacana yang dalam penyampaian isi menggunakan bahasa-bahasa yang bersifat puitik dengan memperhatikan pemilihan kata dan gaya bahasa. (Chaer, 2007:272-273).


   E. Kedudukan Wacana dalam Linguistik
Wacana berada pada posisi paling besar dan paling tinggi (Harimurni Kridalaksana, 1984:334). Wacana sebagai satuan grametikal dan objek kajian  linguistik mengandung semua unsur kebahasaan  yang diperlukan dalam berkomunikasi.
Unsur-unsur satuan kebahasaan dibawahnya seperti fonem, morfem, frase, klausa, atau kalimat.

BAGAN A
Bagan A menunjukkan bahwa semakin keatas, suatu kebahasaan akan semakin besar (melebar). Artinya, satuan kebhasaan yang ada di bawah akan tercakup dan menjadi bagian  dari satuan bahasa yang berada di atasnya.  Berikut kedudukan wacana dalam ilmu linguistik :
1.      Analisis “Wacana” dengan “Fonologi”
Abdul Chaer (2007:102) menjelaskan bahwa fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Wacana adalah kajian yang meneliti dan mengkaji bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
2.      Analisis “Wacana” dengan “Morfologi”
Wijana (2007:1) menjelaskan bahwa morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk morfem dan penggabungannya untuk membentuk satuan lingual yang disebut kata polimorfemik.
3.      Analisis “Wacana” dengan “Sintaksis”
Ramlan (1996:21) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Sedangkan Kridalaksana dalam Tarigan (1984:208) menjelaskan bahwa wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar.
4.      Analisis “Wacana” dengan “Semantik”
George dalam Tarigan (1964:1), secara singkat dan populer menjelaskan bahwa semantik adalah telaah mengenai makna.
FF.  Penutup
Wacana dalam beberapa aspek kehidupan cukup berperan terutama dalam bidang kepenulisan, wacana memberikan ide,gagasan, atau instruksi bagi pembaca maupun pembicara. Manfaat dari mempelajari wacana yakni kita dapat mengetahui beberapa pengertian, serta pengembangan dari struktur wacana. Kita dapat merubah pola pikir kita mengenai wacana, banyak yang bernaggapan wacana hanya dibatasi dengan karya tulis. Namun dengan mempelajari hakikat wacana kita lebih bisa menjabarkan jenis-jenis yang terdapat dalam wacana. Selanjutnya mengenai kedudukan wacana dalam linguistik,  wacana memiliki unit tertinggi dari fonem,morfem,kata,frase,klausa, kalimat dan wacana.
Sumber :
Chaer,Abdul.2007.linguistik umum. Jakarta :Rineka Cipta.
Tarigan, Guntur.2009.pengajaran wacana.Bandung :Angkasa.
Syamsuddin A.R. 1992. Studi Wacana: Teori-Analisis pengajaran. Bandung:FPBS IKIP Bandung.
Levinson, Stephen C. 1985. Pragmatics. Cambridge University Press.
Wijana, l Dewa.1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta : Andi.
Ramlan,M. 1996. Sintaksis-Cetakan ketujuh.Yogyakarta: CV.Karyono.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKS, KOTEKS, dan KONTEKS

JENIS WACANA BERDASARKAN TUJUAN KOMUNIKASI

JENIS-JENIS WACANA Berdasarkan Saluran Komunikasi dan Peserta Komunikasi