ANCANGAN KAJIAN WACANA (TeoriTindakTutur, SosiolinguistikInteraksional, danEtnografiKomunikasi)
ANCANGAN
KAJIAN WACANA
(TeoriTindakTutur,
SosiolinguistikInteraksional, danEtnografiKomunikasi)
Pramedya Octaviani
A. PENDAHULUAN
Wacana
mempunyai dimensi yang luas karena wacana diproduksi oleh masyarakat pemiliknya
yang beragam dan kaya budaya.Untuk memahami secara mendalam dan tuntas
diperlukan berbagai sudut pandang.Ada enam ranah kajian wacana, diantarannya:
teori tindak tutur, teori sosiolingustik interaksional, teori etnografi
komunikasi, teori pragmatik, teori analisis percakapan, dan teori analisis
variasi.
B. Teori Tindak Tutur
Searle (dalam Rusminto, 2010: 22) mengemukakan bahwa tindak tutur adalah teori yang mencoba mengkaji makna bahasa yang didasarkan pada hubungan tuturan dengan tindakan yang dilakukan oleh penuturnya. Tarigan (1990: 36) menyatakan bahwa berkaitan dengan tindak tutur maka setiap ujaran atau ucapan tertentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Dengan kata lain, kedua belah pihak, yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu tujuan kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Sesuai dengan keterangan tersebut, maka instrumen pada penelitian ini mengacu pada teori tindak tutur.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah teori yang mengkaji makna bahasa yang didasarkan pada hubungan tuturan dengan tindakan yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tuturnya dalam berkomunikasi.
Hal itu sejalan dengan yang dikatakan Searle (1969) bahwa berdasarkan fungsinya, tindak tutur dapat dibedakan atas tindak tutur asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Austin (1962) dirumuskan sebagai tiga buah tindakan yang berbeda, yaitu :
1. Tindak Tutur Lokusi
Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu sebagaimana adanya atau The Act of Saying Something, tindakan untuk mengatakan sesuatu. (Chaer : 2010). Contoh :
Ø Bencana
terbesar di Tasikmalaya pada tahun 2010 adalah Gempa bumi.
Bedasarkan contoh diatas tindak
tutur Lokusi dapat dikatakan sebagai pemberian informasi kepada lawan tutur
berupa fakta atau data yang diperoleh.
2. Tindak
Tutur Ilokusi
Tindak
tutur ilokusi selain menyatakan sesuatu juga menyatakan tindakan melakukan
sesuatu, oleh karena itu disebut sebagai The Act of Doing Something (tindakan
melakukan sesuatu) (Chaer : 2010).
Contoh
:
Ø Ujian
Nasional sudah dekat.
Bedasarkan contoh diatas tindak
tutur Ilokusi dapat diartikan sebagai tindak tutur yang memicu lawan tutur
untuk menganggapi atau melakukan sesuatu yang dimaksudkan oleh penutur.
3. Tindak
Tutur Perlokusi
Tindak
tutur perlokusi adalah tindak tutur yang mempunyai pengaruh atau efek terhadap
lawan tutur atau orang yang mendengar tuturan itu. Maka tindak tutur perlokusi
sering disebut sebagai The Act of Affective Someone (tindak yang memberi efek
pada orang lain) (Chaer : 2010). Contoh :
Ø Jum’at
lalu saya tidak mengikuti perkuliahan karena mengikuti Work Shop.
Bedasarkan contoh diatas tindak
tutur perlokusi yakni tindak tutur yang berkaibat pada lawan tutur berupa
tanggapan yang berwujud tindakan.
C.
Teori Tindak Tutur sebagai Ancangan Wacana
Memfokuskan pada tuturan sebagai tindak, teori tindak tutur menawarkan
ancangan analisis wacana yang disebut dibagi ke dalam unit-unit yang memiliki
fungsi komunikatif yang diidentifikasi. Walaupun kami dapat mendeskripsikan
tindak tersebut dalam kata lain misalnya sebagai realisasi wujud kaidah,
sebagai produk hubungan bentuk fungsi, sebagai hasil perbedaan tekstual dan
kondisi tekstual mengimpor tindak untuk wacana tersebut adalah bahwa mereka
mengawali dan merespons ke arah tindak lain.
D.
Etnografi
Komunikasi
Menurut
Hymes (1974) dalam Deborah Schiffrin (2007: 184) istilah etnografi komunikasi
sendiri menunjukkan cakupan kajian berlandaskan etnografi dan komunikasi.
Cakupan kajian tidak dapat dipisah-pisahkan, misalnya hanya mengambil
hasil-hasil kajian dari linguistik, psikologi, sosiologi, etnologi, lalu
menghubung-hubungkannya. Fokus kajiannya hendaknya meneliti secara langsung
terhadap penggunaan bahasa dalam konteks situasi tertentu, sehingga dapat
mengamati dengan jelas pola-pola aktivitas tutur, dan kajiannya diupayakan
tidak terlepas (secara terpisah-pisah), misalnya tentang gramatika (seperti
dilakukan oleh linguis), tentang kepribadian (seperti psikologi), tentang
struktur sosial (seperti sosiologi), tentang religi (seperti etnologi), dan
sebagainya.
Konsep
etnografi wicara di dalam sosiolinguistik menurut Hymes merupakan bagian dari
kajian komunikasi secara keseluruhan.Untuk itu perlu dipahami beberapa konsep
penting yang berkaitan dengan etnografi wicara.Deborah Schiffrin (2007: 261),
Ancangan kajian etnografi terhadap wacana diperlukan untuk menemukan dan
menganalisis struktur-struktur dan fungsi-fungsi dari komunikasi yang mengatur
penggunaan bahasa dalam situasi tutur, peristiwa tutur, dan tindak tutur.
E.
Sosiolinguistik
Interaksional
Definisi
di pembahasan sosiolinguistik interaksional ini bukan definisi yang
semestinya.Akan tetapi, definisi di pembahasan sosiolinguistik interaksional
ini adalah pandangan atau lebih tepatnya sebuah kontribusi dari dua tokoh yang
akhirnya bisa mengembangkan masalah sosiolinguistik interaksional.Dalam bagian
ini, Deborah mendeskripsikan gagasan dasar sosiolingustik interaksional.Deborah
mengawali dengan kerja Gumperz dan kemudian beralih ke
kerja Goffman.
·
Kontribusi
Antopologi: Gumperz
Sosiolinguistik komunikasi
interpesonal Gumperz adalah pandangan bahasa yang secara sosial dan kultural
dikonstruk sistem simbol yang digunakan sebagai cara yang merefleksikan makna
sosial level-mikro (misal; identitas kelompok, perbedaan status) dan menciptakan
makna sosial level-makro (apakah seseorang menuturkan dan melakukan pada waktu
yang tepat). Penutur adalah anggota kelompok sosial dan kultural: cara kita
menggunakan bahasa bukan hanya merefleksikan identitas, dasar kelompok kita
tetapi juga memberikan indikasi kontinu semacam siapa kita, kita ingin
berkomunikasi apa, dan bagaimana kita tahu bagaimana melakukan. Kecakapan
memproduk dan memahami prosesindeksikal itu menjadikan mereka tampak, dan
dipengaruhi oleh, konteks lokal merupak bagian kompetensi komunikatif kita.
Sebagaimana kita lihat pada bagian berikut ini, kerja Erving Goffman juga
berfokus pada pengetahuan ditempatkan, penutur, dan konteks sosial, tetapi
berbeda cara dan berbeda penekanan.
·
Kontruksi
Sosiolog: Goffman
Kerja Goffman sebagaimana memberikan
elaborasi praduga kontekstual bahwa orang menggunakan dan mengonstruk selama
proses menduga, dan sebagai tawaran pandangan makna dengan cara praduga
tersebut secara eksternal dionstruk dan menentukan keterikatan-keterikatan
eksternal pada cara-cara kita memahami pesan. Sebagian besar kerja Goffman yang
terakhir pada penutur (1974; 1979) terbagun atasa pembagian awalnya melokasikan
penutur di dalam kerangka kerja partisipan seperangkat posisi yang individu di
dalam batas perseptual tuturan berada dalam hubungan ke arah tuturan tersebut.
Goffman membedakan empat posisi atau status partisipan: Animator, Author,
Figure, dan Prinsipal. Animator memproduk tuturan, Author menciptakan tuturan,
Figure dipotret lewat tuturan, dan Prinsipal merespon tuturan.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Agustina, L. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Schiffrin,
Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komentar
Posting Komentar