Pragmatik, Analisis percakapan, Analisis Variasi
Pragmatik, Analisis percakapan, Analisis Variasi
Oleh
Pramedya Octaviani
Pendahuluan :
Kajian wacana merupakan kajian
terbesar dimana didalamnya terdapat cabang-cabang ilmu
lainnya, seperti halnya semantik pula wacana juga menganalissi bagaimana
percakapan yang meliputi hubungan uatu topik pembicaraan dan proses bergilir
dalam suatu pembicaraan serta analasisis variasi. Penjelasan lebih lengkap akan
dibahas berikut ini :
Pragmatik menurut Morris (1938) sebagai
suatu cabang semiotika, yakni ilmu yang mempelajari mengenai tanda. Sedangkan
pendapat menurut (Givon, 1989 : 2-25) pragmatik ialah ilmu yang mempelajari
mengenai tanda. Jadi diantara kedua pendapat ahli tersebut bahwaprgamatik yakni
ilmu yang mempelajari tentang tanda. Untuk lebih lengkapnya, Morris
mengidentifikasi 3 cara untuk mempelajari tanda: sintaksis adalah studi tentang
hubungan formal antara tanda-tanda yang satu dengan yang lain; semantik adalah
studi tentang bagaimana tanda-tanda tersebut dihubungkan dengan objek-objek
yang dirujukinya atau yang dapat dirujuknya; pragmatik adalah studi tentang
hubungan tanda-tanda dengan interpreter. Dengan demikian, pragmatic adalah
studi tentang bagaimana menggunakan atau mengikutsertakan pemakai tanda atau
penerima tanda pada saat memaparkan (pengonstruksikan dari interpretan) tanda
itu sendiri.Perbedaan semantk dan pragmatik tereletak pada segi
pemakaiannya, karena ilmu semantik mengacu pada benda-benda yang
dimaksdukan oleh pemakai bahasa
sedangkan dalam paktiknya yakni penggabunngan antara pemakai bahasa dan dalam
pemakiannya disebut dengan pragmatik.
Ada 2
konsep pokok yang dibahas dalam pragmatik menggunakan model Grice yaitu :
1) Makna
Tutur
Konsep utama yang penting
dari pragmatik model Grice adalah makna penutur. Makna penutur tidak hanya
memberikan perbedaan antara dua hal makna (pembagian antara makna semantik dan
makna pragmatik), dan juga pandangan definite tentang komunikasi manusia yang
memfokusan pada maksud/tujuan. Grice (1957) memisahkan non-alami (meaning-nn)
dari makna alami. Makna alami adalah ketiadaan maksud/tujuan manusia.
Contoh
:
·
Those spots mean meales
(Bintik itu bermakna penyakit campak). Makna non-alami kira-kira sama dengan
maksud komunikasi.
· Grice
mencontohkan Those three rings on the bell (of the bus) mean that” the bus
is full.” (tiga bunyi bel dalam bus itu bermakna bahwa bus penuh).
Berkaitan
dengan pendapat yang dikemukaan oleh
grice mengenai makna tutur, dalam teorinya Grice menungkapkan bahwa
tanda secara non-verbal termasuk dalam makna alamiah. Sedangkan dalam sebuah
potongan percakapan atau komunikasi disebut dengan makna non-alamiah.
2) Pransip
kerja sama
Agar mengerti prinsip
kerja sama (PK), perlu menggambarkan pandangan Grice tentang makna logis dalam
relevansinya dengan bahasa alamiah. Pokok bahasan kami juga akan memusatkan
pada konsep implikatif, kesimpulan tentang maksud penutur yang timbul dari penggunaan
makna semantic dan prinsip-prinsip percakapan oleh penerimaan. Karna implikatur
berhubungan dengan makna semantic “tanda” tetap penting dalam makna non-alami.
Tetapi, karena implikatur juga berdiri sendiri dalam prinsip percakapan
“konteks” menjadi media pengguna tanda. Grice (1975) memerhatikan hubungan
antara logika dan percakapan (sebenarnya “Logic and conversation” adalah
judul tulisan).
Contoh
:
· I went
to the store and I put gas gas in the car (saya pergi ke toko dan saya
meletakkan gas dalam mobil). Mungkin disajikan sebagai P dan Q (di mana “P”
adalah melambangkan proposisi dalam klausa pertama dan “Q” yang kedua).
Mengawali dari observasi yang paling umum,
Grice mengajukan sebuah prinsip umum bahwa partisipan diharapkan mengobservasi:
“Buatlah sumbangan percakapan anda sedemikian rupa sebagaimana diharapkan, pada
tingkat percakapan yang bersangkutan, oleh tujuan percakapan yang lazim/
diketahui/ disepakati atau oleh arah percakapan yang sedang anda ikuti.
“Prinsip ini diberi nama prinsip kerja sama (PK).
Prinsip
kerjasam yang dimaksud oleh Grice yakni mengharap mitra tutur untuk menanggapi
apa yang dimaksudkan oleh penutur sebagai contohsaya pergi ke toko dan saya
meletakkan gas dalam mobil, disini penutur
mengharapkan untuk lawan tutr dapat mebgaerti serta memahami apa yang
dimaksudkan oleh penutur, karena ketika penutur mengungakapkan kalimat tersebut
berarti mengajak mitra tutu untuk menanggapi baik dengan cara verbal maupun
non-verbal.
Yang menandai dari sebuah implikatur
adalah mereka harus dapat dipertimbangkan oleh mitra tutur. Grice
mendeskripsikan proses tersebut sebagai berikut:
Untuk memahami implikatur percakapan
definite eksis, mitra tutur akan mempercayakan data berikut:
1) makna lazim dari
kata-kata yang digunakan bersama-sama dengan identitas dari beberapa referensi
atau keterangan yang mungkin terkait.
2) PK dan maksim-maksimnya
3) Konteks, linguistik atau
dengan cara lain dari tuturan
4) Hal-hal lain tentang
latar belakang pengetahuan
5) Fakta (fakta yang
diduga) bahwa semua hal yang relevan berkenaan dengan masalah sebelumnya yang
ada pada kedua partisipan dan kedua partisipan mengetahui atau menerimanya
sebagai kasus.
A. Acuan Peristilahan:
Proses Pragmatic Dalam Wacana
Pragmatik model grice memberikan sebuah cara untuk menganalisi inferensi
makna penutur:bagaimana mitra tutur menduga maksud yang mendasari tuturan
penutur.ini tidak dimaksudkan sebagai ancangan pada analisis wacana misalnya,
untuk tahapan tuturan.
B. Analisis Sampel :
Tahapan Acuan Dalam Cerita
Analisis sampel dalam bagian ini berdasarkan pada ekspresi ,ekspresi
penunjuk dalam wacana khusus dalam sebuah narasi. Setelah menyajikan narasi
atau cerita.
Analisis percakapan (coversation analysis,
selanjutnya disingkat AP) merupakan salah satu pendekatan analisis wacana dalam
disiplin ilmu soiologi. AP dipelopori oleh Harold Garfinkel yang dikenal juga
sebagai bapak sosiologi. AP berakar dari pendekatan yang telah dikembangkan
sebelumnya, yaitu etnometodologi (yang dipengaruhi fenomenologi Alfred Schutz).
Namun, AP berbeda dengan cabang sosiologi lainnya karena AP bukan menganalisis
pranata sosial itu sendiri, melainkan menemukan bagaimana cara anggota
masyarakat membentuk hakikat dari sebuah pranata sosial.
AP berakar dari etnometodologi. Istilah
etnometodologi digunakan oleh Garfinkel (1974) dalam analisis lintas budaya
yang berkaitan dengan cara-cara bertindak (doing)
dan apa yang diketahui (knowing)
(dalam Schffrin, 1994:233). Apa yang diketahui tidak hanya terbatas pada
pengetahuan secara sempit, tetapi juga meliputi kebiasaan yang ada. Alasan
penggunaan istilah di atas pada prinsipnya sama dengan pengertian
etnometodologi itu sendiri. Pakar pendekatan itu berkeyakinan bahwa percakapan
merupakan suatu aktivitas yang diatur oleh aturan (rulegoverned). Percakapan
itu bukanlah aktivitas yang acak (random)
maupun tak bertujuan (aimless), melainkan suatu aktivitas yang memperagakan
keteraturan (regulaty) dan pola (patterns) (Marcellino, 1993:60).
C. Definisi Analisis Percakapan
AP berakar dari etnometodologi. Istilah
etnometodologi digunakan oleh Garfinkel (1974) dalam analisis lintas budaya
yang berkaitan dengan cara-cara bertindak (doing)
dan apa yang diketahui (knowing)
(dalam Schffrin, 1994:233). Apa yang diketahui tidak hanya terbatas pada
pengetahuan secara sempit, tetapi juga meliputi kebiasaan yang ada. Alasan
penggunaan istilah di atas pada prinsipnya sama dengan pengertian
etnometodologi itu sendiri. Pakar pendekatan itu berkeyakinan bahwa percakapan
merupakan suatu aktivitas yang diatur oleh aturan (rulegoverned). Percakapan
itu bukanlah aktivitas yang acak (random)
maupun tak bertujuan (aimless), melainkan suatu aktivitas yang memperagakan
keteraturan (regulaty) dan pola (patterns) (Marcellino, 1993:60).
a. Analisis Sample: “There + BE + ITEM”
Pendekatan analisis percakapan terhadap wacana
memerhatikan bagaimana partisipan dalam pembicaraan membangun sokusi sistematis
pada masalah pengaturan secara berulang-ulang. Di antara banyak masalah yang
dipecahkan adalah membuka dan menutup pembicaraan, pengambilan giliran,
perbaikan, pengaturan topik penerima informasi, dan menunjukkan persetujuan dan
ketidaksetujuan.
(1) Contoh adanya kontruksi there yang
digunakan oleh penanggungjawab perpustakaan (P) untuk membuka sebuah pertanyaan
selama wawancara dengan pustakawan. Kontruksi there memfokuskan butir (item)
yang dicari (P).
Contoh (1): P: (J) There used to be a monthly report
that comes from S-securities Excange Commission..on insider’s transactions.
(biasanya ada laporan bulanan dari Komisi Pertukaran Keamanan
tentang transaksi orang dalam).
(L):
(k) UH huh
(uh huh(tidak...tidak)
P: (l) and many years ago you
used to carry it.
(dan beberapa tahun lalu kamu biasa membuatnya.)
(m)
and I haven’t seen it in a long time.
(dan saya sudah
lama tak pernah melihatnya.)
Pertanyaan dibuka dengan there used to be: predikat
ini tidak berarti apa-apa tetapi keberadaannya (mendahului waktu berbicara) apa
yang kami sebut ITEM. Deskripsi ITEM P yang sedang ditanyakan mencakup sejumlah
besar informasi di dalam frasa benda: ketika
publikasi data (monthly : bulanan), asalnya (Securities Exchange Commission :
Komisi Pertukaran Keamanan), dan topiknya
(insider’s transactions : transaksi orang dalam. Ketika P melanjutkan informasi
tambahan tentang ITEM ini (kapan dilakukan (1), pengetahuannya sendiri tersedia
(m), namun, ITEM dimunculkan melalui pronomina it. Jadi, keberadaan konstruksi
there dalam (1) mengawali rangkaian acuan (bab 6) dengan cara sebutan pertama
tidak tentu (indefinite) dan eksplisit (laporan bulanan) dan sebutan berikutnya
tentu (definite) dan tidak eksplisit.
b.
“Penyebutan,” “There + BE + ITEM,” dan Pasangan
Terdekat
Percakapan
secara khusus terjadi dalam model berpasangan, anti organisasi percakapan yang
mendasar adalah urutan percakapan bagi dua. Sistem pasangan dapat juga
mengalami modifikasi. Namun, pasangan pendahuluan dapat diperluas sebelum,
setelah selesai, atau bahkan selama pasangan dibentuk. Perluasan organisasi
pasangan terdekat mendukung ide bahwa pasangan terdekat merupakan pusat
pelaksanaan urutan.
Bagian
ini mempertimbangkan bagaimana penyebutan pertama dan penyebutan berikutnyadari
sebuah ITEM disajikan dalam “there + BE + ITEM” yang dikaitkan dengan
organisasi pasangan terdekat. “There + BE + ITEM” ditemukan dalam dua jenis
pasangan pertanyaan/jawaban (Q/A) yang disisipkan dalam pembicaraan, baik
sebagai pra urutan ataupun penyisipan urutan.
c.
“There + BE + ITEM” dan
Organisasi Giliran pada Berbicara
Bagian ini terfokus pada sumber utama
struktur dan pengaturan berbicara: struktur pertukaran menciptakan kebutuhan
untuk pergantian giliran. Penggunaan “there + BE + ITEM” itu peka atas
pengelolaan giliran individu dan bagaimana giliran dirancang bagi penerima:
kita menemukan preferensi “there + BE + ITEM” untuk menduduki satu unit
konstruksional giliran dan ditempatkan dalam posisi internal-giliran.
Pengamatan bahwa hampir semua contoh
dalam korpus tujuh puluh konstruksi “There + BE + ITEM” yang dipertimbangkan di
sini dihasilkan di bawah satu kontur intonasi berkelanjutan. Ingat bahwa kasus
yang berlanjut secara intonasional termasuk tidak hanya beberapa kata dan tidak
terbatas secara sintaksis pada transisi giliran (seperti contoh 12 di bawah
ini) tetapi juga yang lebih panjang dan terbatas rentang sintaksisnya dalam transisi
giliran (lihat contoh 13 di bawah ini).
(12)
There’s three
(ada tiga)
(13) There’s always something to do in a
home where there is a family.
(Selalu ada sesuatu untuk
dikerjakan di rumah yang ada keluarga).
Pembicaraan itu menghasilkan di bawah satu
intonasi berkelanjtan bahan itu mengambil kasus “There + Be + ITEM” yang meluas
melaumpaui transisi pembatas sintaksis giliran transisi yang menunjukkan
preferensi untuk “There + Be + ITEM” menjadi satu unit kontruksi giliran.
Dengan kata lain, contoh seperti (14) dapat dihasilkan secara aktual, tanpa
memotong-motong intonasi:
(14) because there wa
homes over through there that I knew like from a
kid.
(karena ada rumah-rumah melewati sana yang saya ketahui
seperti dari mainan)
Fakta bahwa
ujaran dihasilkan secara rutin di bawah satu intonasi berkelanjutan (seperti
dalam 14) menunjukkan sebuah preferensi untuk “There + Be + ITEM” dikabarkan
sebagai satu unit kontruksi giliran.
d.
“There + BE +
ITEM” dan Organisasi Topik
Bagian ini, kita
mendiskusikan bagaimana “There + BE + ITEM” dapat membantu mengelola masalah
ini. Saya memfokuskan pada peranan “There + BE + ITEM” alam Sacks (1972:15-16)
yang menyebutkan tahap transisi.Transisi topik terhadap mungkin dibangun dengan
beberapa cara. Meskipun deskripsi Sacks tentang pergeseran dari satu topik ke
topik lain tidak memerlukan transisi leksikal secara eksplisit, maka
kemungkinan secara linguistik menandai transisi bertahap, yaitu melalui
repitisi (atau anaphora) dan ikatan metalingual (seperti dalam “Speaking of
that reminds me of (topik 2)”. Transisi kurang eksplisit dapat mengurangi
kejelasan penanda atau terkait dengan menginferensi kategori yang berhubungan
antara topik-topik tersebut. Dikusi tentang rumah (topik 1), misalnya, dapat
menjadi diskusi membagi level rumah (topik 1b). Meskipun bermacam-macam topik
yang berbeda yang mungkin berhubungan dengan atau tanpa penanda eksplisit yang
mengikat semua contoh berhasil sebagai transisi dengan menyebutkan topik tanpa
membuka atau menutup topik itu secara eksplisit. Kita mulai dengan (24), sebuah
contoh yang mana topik 1 (“relief: pertolongan) secara eksplisit disediakan
lebih dulu dari topik 1a (“rumah sabub”), dan topik 1a-x (“a place up on
Francis Avenue”: ‘menempati pada jalan Raya prancis’). Topik 1 dan 1a-x masuk
pembicaraan melalui “There + BE + ITEM”.
Contoh 24 :
(a) I mean, in them
days there was no thing as rek as relief
‘Maksud
saya, pada zaman mereka tidak ada barang semacam seperti rel seperti relief.’
(b) You had to make
a livin, y’know.
‘Kamu
harus manecari nafkah, kamu tahu.’
(c) And they had
free soap houses.
‘dan
mereka mempunyai rumah sabun gratis.’
(d)There’s place up on Francis Avenue here,
oh about three miles up.
‘ada
suatu tempat di jalan Prancis, kira-kira 3 ml lebih.
(e) That’s still in
existence yet.
‘Hal
ini masih ada.’
(f) They se-they go
in there and they make give you soap, for free.
‘Mereka se-mereka masuk
ke sana dan mereka memberi sabun gratis’.
Pembicaraan
mulai dengan kontruksi “There + BE + ITEM” yang mencatat selain keberadaan dari
“relief” (topik 1). Setelah memulai alternatif “relief” (cb) you had to make a
livin, y’know), dia menyatakan bahwa satu jenis bantuan adalah “free soap
houses” (rumah sabun gratis): and they had free soap houses (c). Meskipun free
soap houses” (topik 1a) merupakan seperangkat anggota “relef” kategori yang
lebih besar (topik 1), topik itu juga sebuah kategori yang dapat dikhususkan
lebih lanjut. Ini persis seperti yang terjadi pada (d) sampai (f): pembicara
menyebutkan dulu sebuah rumah sabun secara khusus (topik 1a-x) dengan format
“There + BE + ITEM” (d), dan menyediakan dua properti dan rumah sabun itu
(e,f). Jadi, “There + BE + ITEM) memberi pengantar topik 1 (“relief) dan
membantu menggeser topik dari 1a (“soap house”) sampai topik yang lebih khusus
1a-x (“a place up on Francis Avenue here”).
- Definisi Analisis Variasi
Ancangan analisis variasi digunakan dalam
bidang linguistik. Banyak permasalahan yang tertuju pada variasionis yaitu
permasalahan yang sudah diketahui linguis pada umumnya, misalnya dalam
permasalahan perubahan linguistik. Riset variasionis terhadap unit-unit dalam
wacana yang membebani secara sistematis dan terpola memiliki hubungan satu
dengan yang lain. Ancangan
a.)
“There + BE +
ITEM” dan Organisasi Topik
Dalam bagian ini, kita mendiskusikan
bagaimana “There + BE + ITEM” dapat membantu mengelola masalah ini. Saya
memfokuskan pada peranan “There + BE + ITEM” alam Sacks (1972:15-16) yang
menyebutkan tahap transisi.
Transisi topik
terhadap mungkin dibangun dengan beberapa cara. Meskipun deskripsi Sacks
tentang pergeseran dari satu topik ke topik lain tidak memerlukan transisi
leksikal secara eksplisit, maka kemungkinan secara linguistik menandai transisi
bertahap, yaitu melalui repitisi (atau anaphora) dan ikatan metalingual
(seperti dalam “Speaking of that reminds me of (topik 2)”. Transisi kurang
eksplisit dapat mengurangi kejelasan penanda atau terkait dengan menginferensi
kategori yang berhubungan antara topik-topik tersebut. Dikusi tentang rumah
(topik 1), misalnya, dapat menjadi diskusi membagi level rumah (topik 1b).
Meskipun bermacam-macam topik yang berbeda yang mungkin berhubungan dengan atau
tanpa penanda eksplisit yang mengikat semua contoh berhasil sebagai transisi
dengan menyebutkan topik tanpa membuka atau menutup topik itu secara eksplisit.
Kita mulai
dengan (24), sebuah contoh yang mana topik 1 (“relief: pertolongan) secara
eksplisit disediakan lebih dulu dari topik 1a (“rumah sabub”), dan topik 1a-x
(“a place up on Francis Avenue”: ‘menempati pada jalan Raya prancis’). Topik 1
dan 1a-x masuk pembicaraan melalui “There + BE + ITEM”.
Contoh 24 :
(g) I mean, in them
days there was no thing as rek as relief
‘Maksud
saya, pada zaman mereka tidak ada barang semacam seperti rel seperti relief.’
(h) You had to make
a livin, y’know.
‘Kamu
harus manecari nafkah, kamu tahu.’
(i)
And
they had free soap houses.
‘dan mereka
mempunyai rumah sabun gratis.’
(j)
There’s
place up on Francis Avenue here, oh about three miles up.
‘ada
suatu tempat di jalan Prancis, kira-kira 3 ml lebih.
(k) That’s still in
existence yet.
‘Hal
ini masih ada.’
(l)
They
se-they go in there and they make give you soap, for free.
‘Mereka se-mereka masuk
ke sana dan mereka memberi sabun gratis’.
Pembicaraan
mulai dengan kontruksi “There + BE + ITEM” yang mencatat selain keberadaan dari
“relief” (topik 1). Setelah memulai alternatif “relief” (cb) you had to make a
livin, y’know), dia menyatakan bahwa satu jenis bantuan adalah “free soap
houses” (rumah sabun gratis): and they had free soap houses (c). Meskipun free
soap houses” (topik 1a) merupakan seperangkat anggota “relef” kategori yang
lebih besar (topik 1), topik itu juga sebuah kategori yang dapat dikhususkan
lebih lanjut. Ini persis seperti yang terjadi pada (d) sampai (f): pembicara
menyebutkan dulu sebuah rumah sabun secara khusus (topik 1a-x) dengan format
“There + BE + ITEM” (d), dan menyediakan dua properti dan rumah sabun itu
(e,f). Jadi, “There + BE + ITEM) memberi pengantar topik 1 (“relief) dan
membantu menggeser topik dari 1a (“soap house”) sampai topik yang lebih khusus
1a-x (“a place up on Francis Avenue here”).
- Definisi Analisis Variasi
Ancangan analisis variasi digunakan dalam
bidang linguistik. Banyak permasalahan yang tertuju pada variasionis yaitu
permasalahan yang sudah diketahui linguis pada umumnya, misalnya dalam
permasalahan perubahan linguistik. Riset variasionis terhadap unit-unit dalam
wacana yang membebani secara sistematis dan terpola memiliki hubungan satu
dengan yang lain. Ancangan
Analisis variasi adalah realitas sosial
tetapi juga membawa pada sebuah pengertian mengapa narasi telah memberikan
sumber data yang segar untuk analisis: narasi adalah unit wacana dengan susunan
yang baik teratur yang bebas pada bagaimana mereka terlibat dalam lingkup
pembicaraan. Contoh narasi yaitu :
“Salah satu yang paling dramatis cerita bahaya kematian (danger-of-death)
yang dituturkan oleh seorang pensiunan pegawai pos pada Negara Bagian Timur.
Kakaknya dibacok kepalanya dengan pisau. Dia mengambil kesimpulan : Dan dokter
hanya berkata,”ini hanyalah dilebih-lebihkan” dan dia berkata,” dan kamu telah
mati.” (Labov, 1972b : 387).
Ancangan variasionis pada wacana adalah
ancangan linguistic yang mempertimbangkan konteks sosial pada metodologi
tertentu dan keadaan analisis meskipun unit wacana seperti narasi adalah
sensitif untuk konteks sosial yang diceritakan dan pokoknya dari nilai
pembicara dan pengalaman yang subjektif, struktur cerita dapat dianalisis
terpisah dari caranya dan ditempatkan secara lokal. Analisis variasionis dari
wacana lainnya daripada narasi menunjukkan perpisahan yang sama antara bahasa
dan kehidupan sosial- keengganan untuk menghubungkan dua sistem dasar yang
saling berhubungan (bandingkan, sosiolinguistik interaksi, etnografi
komunikasi, analisis percakapan).
Simpulan :
Pembahasan diatas
dapat disimpulkan bahwa ancangan kajian wacana terdiri dari enam yaitu tindak
tutur, etnografi komunikasi, sosiolinguistik interaksional, kajian pragmatik,
analisis percakapan, dan analisis variasi. Di sini kami membahas hanya membahas
pragmatik, analisis percakapan dan analisis variasi. Pragmatik
adalah studi tentang bagaimana menggunakan atau mengikutsertakan pemakai tanda
atau penerima tanda pada saat memaparkan (pengonstruksikan dari interpretan)
tanda itu sendiri. Ada 2 konsep pokok dalam kajian pragmatic menggunakan model Grice yaitu
makna tutur dan prinsip kerjasama.
Analsis percakapan merupakan salah satu pendekatan analisis wacana dalam
disiplin ilmu sosiologi. Dalam praktik analisisnya, analisis percakapan
memperhatikan masalah pranata sosial dan cara kerja bahasa dalam membentuk
pranata sosial serta cara konteks sosial membentuk bahasa. Schffrin (1994)
mengemukakan adanya analisis sampel: “ There + Be + ITEM “. Analisis sampel
sendiri terbagi lagi menjadi (a) “penyebutan,” “There + Be + ITEM” dan pasangan
berdekatan, (b) “There + Be + ITEM” dan organisasi giliran pada berbicara, (c)
“There + Be + ITEM” dan orgnisasi topik.
Analisis variasi sendiri adalah relaita sosial tetapi juga membawa pada
sebuah pengertian mengapa narasi telah memberikan sumber data yang segar untuk
dianlisis.
Daftar pustaka :
Schiffrin, Deborah. Approaches to Discourse.
USA: Blackwell Publishing, 1994.
1]Deborah Schiffrin, Approaches to
Discourse (USA: Blackwell Publishing, 1994), h. 232.
[2]Talbot J. Taylor dan Deborah Cameron,
Analysing Conversation (Oxford: Pergamon Press,1987), h. 101.
[3]Deborah Schiffrinh, op.cit., h. 239
Komentar
Posting Komentar