Pragmatik, Analisis percakapan, Analisis Variasi



Pragmatik, Analisis percakapan, Analisis Variasi
Oleh Pramedya Octaviani

Pendahuluan :
Kajian wacana merupakan kajian terbesar dimana didalamnya terdapat cabang-cabang ilmu lainnya, seperti halnya semantik pula wacana juga menganalissi bagaimana percakapan yang meliputi hubungan uatu topik pembicaraan dan proses bergilir dalam suatu pembicaraan serta analasisis variasi. Penjelasan lebih lengkap akan dibahas berikut ini :
Pragmatik menurut Morris (1938) sebagai suatu cabang semiotika, yakni ilmu yang mempelajari mengenai tanda. Sedangkan pendapat menurut (Givon, 1989 : 2-25) pragmatik ialah ilmu yang mempelajari mengenai tanda. Jadi diantara kedua pendapat ahli tersebut bahwaprgamatik yakni ilmu yang mempelajari tentang tanda. Untuk lebih lengkapnya, Morris mengidentifikasi 3 cara untuk mempelajari tanda: sintaksis adalah studi tentang hubungan formal antara tanda-tanda yang satu dengan yang lain; semantik adalah studi tentang bagaimana tanda-tanda tersebut dihubungkan dengan objek-objek yang dirujukinya atau yang dapat dirujuknya; pragmatik adalah studi tentang hubungan tanda-tanda dengan interpreter. Dengan demikian, pragmatic adalah studi tentang bagaimana menggunakan atau mengikutsertakan pemakai tanda atau penerima tanda pada saat memaparkan (pengonstruksikan dari interpretan) tanda itu sendiri.Perbedaan semantk dan pragmatik tereletak pada segi pemakaiannya, karena ilmu semantik mengacu pada benda-benda yang dimaksdukan  oleh pemakai bahasa sedangkan dalam paktiknya yakni penggabunngan antara pemakai bahasa dan dalam pemakiannya disebut dengan pragmatik.
Ada 2 konsep pokok yang dibahas dalam pragmatik menggunakan model Grice yaitu :
1)   Makna Tutur
Konsep utama yang penting dari pragmatik model Grice adalah makna penutur. Makna penutur tidak hanya memberikan perbedaan antara dua hal makna (pembagian antara makna semantik dan makna pragmatik), dan juga pandangan definite tentang komunikasi manusia yang memfokusan pada maksud/tujuan. Grice (1957) memisahkan non-alami (meaning-nn) dari makna alami. Makna alami adalah ketiadaan maksud/tujuan manusia.
Contoh :
·      Those spots mean meales (Bintik itu bermakna penyakit campak). Makna non-alami kira-kira sama dengan maksud komunikasi.
·      Grice mencontohkan Those three rings on the bell (of the bus) mean that” the bus is full.” (tiga bunyi bel dalam bus itu bermakna bahwa bus penuh).
Berkaitan dengan pendapat yang dikemukaan oleh  grice mengenai makna tutur, dalam teorinya Grice menungkapkan bahwa tanda secara non-verbal termasuk dalam makna alamiah. Sedangkan dalam sebuah potongan percakapan atau komunikasi disebut dengan makna non-alamiah.
2)   Pransip kerja sama
Agar mengerti prinsip kerja sama (PK), perlu menggambarkan pandangan Grice tentang makna logis dalam relevansinya dengan bahasa alamiah. Pokok bahasan kami juga akan memusatkan pada konsep implikatif, kesimpulan tentang maksud penutur yang timbul dari penggunaan makna semantic dan prinsip-prinsip percakapan oleh penerimaan. Karna implikatur berhubungan dengan makna semantic “tanda” tetap penting dalam makna non-alami. Tetapi, karena implikatur juga berdiri sendiri dalam prinsip percakapan “konteks” menjadi media pengguna tanda. Grice (1975) memerhatikan hubungan antara logika dan percakapan (sebenarnya “Logic and conversation” adalah judul tulisan). 
Contoh :
·  I went to the store and I put gas gas in the car (saya pergi ke toko dan saya meletakkan gas dalam mobil). Mungkin disajikan sebagai P dan Q (di mana “P” adalah melambangkan proposisi dalam klausa pertama dan “Q” yang kedua).
Mengawali dari observasi yang paling umum, Grice mengajukan sebuah prinsip umum bahwa partisipan diharapkan mengobservasi: “Buatlah sumbangan percakapan anda sedemikian rupa sebagaimana diharapkan, pada tingkat percakapan yang bersangkutan, oleh tujuan percakapan yang lazim/ diketahui/ disepakati atau oleh arah percakapan yang sedang anda ikuti. “Prinsip ini diberi nama prinsip kerja sama (PK).
Prinsip kerjasam yang dimaksud oleh Grice yakni mengharap mitra tutur untuk menanggapi apa yang dimaksudkan oleh penutur sebagai contohsaya pergi ke toko dan saya meletakkan gas dalam mobil, disini penutur mengharapkan untuk lawan tutr dapat mebgaerti serta memahami apa yang dimaksudkan oleh penutur, karena ketika penutur mengungakapkan kalimat tersebut berarti mengajak mitra tutu untuk menanggapi baik dengan cara verbal maupun non-verbal.
Yang menandai dari sebuah implikatur adalah mereka harus dapat dipertimbangkan oleh mitra tutur. Grice mendeskripsikan proses tersebut sebagai berikut:
Untuk memahami implikatur percakapan definite eksis, mitra tutur akan mempercayakan data berikut:
1)   makna lazim dari kata-kata yang digunakan bersama-sama dengan identitas dari beberapa referensi atau keterangan yang mungkin terkait.
2)   PK dan maksim-maksimnya
3)   Konteks, linguistik atau dengan cara lain dari tuturan
4)   Hal-hal lain tentang latar belakang pengetahuan
5)   Fakta (fakta yang diduga) bahwa semua hal yang relevan berkenaan dengan masalah sebelumnya yang ada pada kedua partisipan dan kedua partisipan mengetahui atau menerimanya sebagai kasus.
A.    Acuan Peristilahan: Proses Pragmatic Dalam Wacana
Pragmatik model grice memberikan sebuah cara untuk menganalisi inferensi makna penutur:bagaimana mitra tutur menduga maksud yang mendasari tuturan penutur.ini tidak dimaksudkan sebagai ancangan pada analisis wacana misalnya, untuk tahapan tuturan.
B.     Analisis Sampel : Tahapan Acuan Dalam Cerita
Analisis sampel dalam bagian ini berdasarkan pada ekspresi ,ekspresi penunjuk dalam wacana khusus dalam sebuah narasi. Setelah menyajikan narasi atau cerita.
Analisis percakapan (coversation analysis, selanjutnya disingkat AP) merupakan salah satu pendekatan analisis wacana dalam disiplin ilmu soiologi. AP dipelopori oleh Harold Garfinkel yang dikenal juga sebagai bapak sosiologi. AP berakar dari pendekatan yang telah dikembangkan sebelumnya, yaitu etnometodologi (yang dipengaruhi fenomenologi Alfred Schutz). Namun, AP berbeda dengan cabang sosiologi lainnya karena AP bukan menganalisis pranata sosial itu sendiri, melainkan menemukan bagaimana cara anggota masyarakat membentuk hakikat dari sebuah pranata sosial. 
AP berakar dari etnometodologi. Istilah etnometodologi digunakan oleh Garfinkel (1974) dalam analisis lintas budaya yang berkaitan dengan cara-cara bertindak (doing) dan apa yang diketahui (knowing) (dalam Schffrin, 1994:233). Apa yang diketahui tidak hanya terbatas pada pengetahuan secara sempit, tetapi juga meliputi kebiasaan yang ada. Alasan penggunaan istilah di atas pada prinsipnya sama dengan pengertian etnometodologi itu sendiri. Pakar pendekatan itu berkeyakinan bahwa percakapan merupakan suatu aktivitas yang diatur oleh aturan (rulegoverned). Percakapan itu bukanlah aktivitas yang acak (random) maupun tak bertujuan (aimless), melainkan suatu aktivitas yang memperagakan keteraturan (regulaty) dan pola (patterns) (Marcellino, 1993:60).
C.    Definisi Analisis Percakapan
AP berakar dari etnometodologi. Istilah etnometodologi digunakan oleh Garfinkel (1974) dalam analisis lintas budaya yang berkaitan dengan cara-cara bertindak (doing) dan apa yang diketahui (knowing) (dalam Schffrin, 1994:233). Apa yang diketahui tidak hanya terbatas pada pengetahuan secara sempit, tetapi juga meliputi kebiasaan yang ada. Alasan penggunaan istilah di atas pada prinsipnya sama dengan pengertian etnometodologi itu sendiri. Pakar pendekatan itu berkeyakinan bahwa percakapan merupakan suatu aktivitas yang diatur oleh aturan (rulegoverned). Percakapan itu bukanlah aktivitas yang acak (random) maupun tak bertujuan (aimless), melainkan suatu aktivitas yang memperagakan keteraturan (regulaty) dan pola (patterns) (Marcellino, 1993:60).
a.      Analisis Sample: “There + BE + ITEM”
Pendekatan analisis percakapan terhadap wacana memerhatikan bagaimana partisipan dalam pembicaraan membangun sokusi sistematis pada masalah pengaturan secara berulang-ulang. Di antara banyak masalah yang dipecahkan adalah membuka dan menutup pembicaraan, pengambilan giliran, perbaikan, pengaturan topik penerima informasi, dan menunjukkan persetujuan dan ketidaksetujuan.
(1)     Contoh adanya kontruksi there yang digunakan oleh penanggungjawab perpustakaan (P) untuk membuka sebuah pertanyaan selama wawancara dengan pustakawan. Kontruksi there memfokuskan butir (item) yang dicari (P).
Contoh (1): P: (J) There used to be a monthly report that comes from S-securities Excange Commission..on insider’s transactions.
                                 (biasanya ada laporan bulanan dari Komisi Pertukaran Keamanan tentang transaksi orang dalam).
                     (L): (k) UH huh
                                  (uh huh(tidak...tidak)
                       P:  (l) and many years ago you used to carry it.
                                  (dan beberapa tahun lalu kamu biasa membuatnya.)
                            (m) and I haven’t seen it in a long time.
                                  (dan saya sudah lama tak pernah melihatnya.)
Pertanyaan dibuka dengan there used to be: predikat ini tidak berarti apa-apa tetapi keberadaannya (mendahului waktu berbicara) apa yang kami sebut ITEM. Deskripsi ITEM P yang sedang ditanyakan mencakup sejumlah besar informasi di dalam frasa benda: ketika publikasi data (monthly : bulanan), asalnya (Securities Exchange Commission : Komisi Pertukaran Keamanan), dan topiknya (insider’s transactions : transaksi orang dalam. Ketika P melanjutkan informasi tambahan tentang ITEM ini (kapan dilakukan (1), pengetahuannya sendiri tersedia (m), namun, ITEM dimunculkan melalui pronomina it. Jadi, keberadaan konstruksi there dalam (1) mengawali rangkaian acuan (bab 6) dengan cara sebutan pertama tidak tentu (indefinite) dan eksplisit (laporan bulanan) dan sebutan berikutnya tentu (definite) dan tidak eksplisit.
b.      “Penyebutan,” “There + BE + ITEM,” dan Pasangan Terdekat
Percakapan secara khusus terjadi dalam model berpasangan, anti organisasi percakapan yang mendasar adalah urutan percakapan bagi dua. Sistem pasangan dapat juga mengalami modifikasi. Namun, pasangan pendahuluan dapat diperluas sebelum, setelah selesai, atau bahkan selama pasangan dibentuk. Perluasan organisasi pasangan terdekat mendukung ide bahwa pasangan terdekat merupakan pusat pelaksanaan urutan.
Bagian ini mempertimbangkan bagaimana penyebutan pertama dan penyebutan berikutnyadari sebuah ITEM disajikan dalam “there + BE + ITEM” yang dikaitkan dengan organisasi pasangan terdekat. “There + BE + ITEM” ditemukan dalam dua jenis pasangan pertanyaan/jawaban (Q/A) yang disisipkan dalam pembicaraan, baik sebagai pra urutan ataupun penyisipan urutan.
c.       “There + BE + ITEM” dan Organisasi Giliran pada Berbicara
Bagian ini terfokus pada sumber utama struktur dan pengaturan berbicara: struktur pertukaran menciptakan kebutuhan untuk pergantian giliran. Penggunaan “there + BE + ITEM” itu peka atas pengelolaan giliran individu dan bagaimana giliran dirancang bagi penerima: kita menemukan preferensi “there + BE + ITEM” untuk menduduki satu unit konstruksional giliran dan ditempatkan dalam posisi internal-giliran.
Pengamatan bahwa hampir semua contoh dalam korpus tujuh puluh konstruksi “There + BE + ITEM” yang dipertimbangkan di sini dihasilkan di bawah satu kontur intonasi berkelanjutan. Ingat bahwa kasus yang berlanjut secara intonasional termasuk tidak hanya beberapa kata dan tidak terbatas secara sintaksis pada transisi giliran (seperti contoh 12 di bawah ini) tetapi juga yang lebih panjang dan terbatas rentang sintaksisnya dalam transisi giliran (lihat contoh 13 di bawah ini).
(12) There’s three
        (ada tiga)
(13) There’s always something to do in a home where there is a family.
 (Selalu ada sesuatu untuk dikerjakan di rumah yang ada keluarga).
Pembicaraan itu menghasilkan di bawah satu intonasi berkelanjtan bahan itu mengambil kasus “There + Be + ITEM” yang meluas melaumpaui transisi pembatas sintaksis giliran transisi yang menunjukkan preferensi untuk “There + Be + ITEM” menjadi satu unit kontruksi giliran. Dengan kata lain, contoh seperti (14) dapat dihasilkan secara aktual, tanpa memotong-motong intonasi:
                          (14) because there wa homes over through there that I knew like from a
                                  kid.
                                 (karena ada rumah-rumah melewati sana yang saya ketahui seperti dari mainan)
                          Fakta bahwa ujaran dihasilkan secara rutin di bawah satu intonasi berkelanjutan (seperti dalam 14) menunjukkan sebuah preferensi untuk “There + Be + ITEM” dikabarkan sebagai satu unit kontruksi giliran.
d.      “There + BE + ITEM” dan Organisasi Topik
               Bagian ini, kita mendiskusikan bagaimana “There + BE + ITEM” dapat membantu mengelola masalah ini. Saya memfokuskan pada peranan “There + BE + ITEM” alam Sacks (1972:15-16) yang menyebutkan tahap transisi.Transisi topik terhadap mungkin dibangun dengan beberapa cara. Meskipun deskripsi Sacks tentang pergeseran dari satu topik ke topik lain tidak memerlukan transisi leksikal secara eksplisit, maka kemungkinan secara linguistik menandai transisi bertahap, yaitu melalui repitisi (atau anaphora) dan ikatan metalingual (seperti dalam “Speaking of that reminds me of (topik 2)”. Transisi kurang eksplisit dapat mengurangi kejelasan penanda atau terkait dengan menginferensi kategori yang berhubungan antara topik-topik tersebut. Dikusi tentang rumah (topik 1), misalnya, dapat menjadi diskusi membagi level rumah (topik 1b). Meskipun bermacam-macam topik yang berbeda yang mungkin berhubungan dengan atau tanpa penanda eksplisit yang mengikat semua contoh berhasil sebagai transisi dengan menyebutkan topik tanpa membuka atau menutup topik itu secara eksplisit. Kita mulai dengan (24), sebuah contoh yang mana topik 1 (“relief: pertolongan) secara eksplisit disediakan lebih dulu dari topik 1a (“rumah sabub”), dan topik 1a-x (“a place up on Francis Avenue”: ‘menempati pada jalan Raya prancis’). Topik 1 dan 1a-x masuk pembicaraan melalui “There + BE + ITEM”.
                     Contoh 24 :
(a) I mean, in them days there was no thing as rek as relief
‘Maksud saya, pada zaman mereka tidak ada barang semacam seperti rel seperti relief.’
(b) You had to make a livin, y’know.
‘Kamu harus manecari nafkah, kamu tahu.’
(c) And they had free soap houses.
‘dan mereka mempunyai rumah sabun gratis.’
(d)There’s place up on Francis Avenue here, oh about three miles up.
‘ada suatu tempat di jalan Prancis, kira-kira 3 ml lebih.
(e) That’s still in existence yet.
‘Hal ini masih ada.’
(f)  They se-they go in there and they make give you soap, for free.
‘Mereka se-mereka masuk ke sana dan mereka memberi sabun gratis’.
          Pembicaraan mulai dengan kontruksi “There + BE + ITEM” yang mencatat selain keberadaan dari “relief” (topik 1). Setelah memulai alternatif “relief” (cb) you had to make a livin, y’know), dia menyatakan bahwa satu jenis bantuan adalah “free soap houses” (rumah sabun gratis): and they had free soap houses (c). Meskipun free soap houses” (topik 1a) merupakan seperangkat anggota “relef” kategori yang lebih besar (topik 1), topik itu juga sebuah kategori yang dapat dikhususkan lebih lanjut. Ini persis seperti yang terjadi pada (d) sampai (f): pembicara menyebutkan dulu sebuah rumah sabun secara khusus (topik 1a-x) dengan format “There + BE + ITEM” (d), dan menyediakan dua properti dan rumah sabun itu (e,f). Jadi, “There + BE + ITEM) memberi pengantar topik 1 (“relief) dan membantu menggeser topik dari 1a (“soap house”) sampai topik yang lebih khusus 1a-x (“a place up on Francis Avenue here”).
  1. Definisi Analisis Variasi
Ancangan analisis variasi digunakan dalam bidang linguistik. Banyak permasalahan yang tertuju pada variasionis yaitu permasalahan yang sudah diketahui linguis pada umumnya, misalnya dalam permasalahan perubahan linguistik. Riset variasionis terhadap unit-unit dalam wacana yang membebani secara sistematis dan terpola memiliki hubungan satu dengan yang lain. Ancangan
a.)      “There + BE + ITEM” dan Organisasi Topik
     Dalam bagian ini, kita mendiskusikan bagaimana “There + BE + ITEM” dapat membantu mengelola masalah ini. Saya memfokuskan pada peranan “There + BE + ITEM” alam Sacks (1972:15-16) yang menyebutkan tahap transisi.
Transisi topik terhadap mungkin dibangun dengan beberapa cara. Meskipun deskripsi Sacks tentang pergeseran dari satu topik ke topik lain tidak memerlukan transisi leksikal secara eksplisit, maka kemungkinan secara linguistik menandai transisi bertahap, yaitu melalui repitisi (atau anaphora) dan ikatan metalingual (seperti dalam “Speaking of that reminds me of (topik 2)”. Transisi kurang eksplisit dapat mengurangi kejelasan penanda atau terkait dengan menginferensi kategori yang berhubungan antara topik-topik tersebut. Dikusi tentang rumah (topik 1), misalnya, dapat menjadi diskusi membagi level rumah (topik 1b). Meskipun bermacam-macam topik yang berbeda yang mungkin berhubungan dengan atau tanpa penanda eksplisit yang mengikat semua contoh berhasil sebagai transisi dengan menyebutkan topik tanpa membuka atau menutup topik itu secara eksplisit.
Kita mulai dengan (24), sebuah contoh yang mana topik 1 (“relief: pertolongan) secara eksplisit disediakan lebih dulu dari topik 1a (“rumah sabub”), dan topik 1a-x (“a place up on Francis Avenue”: ‘menempati pada jalan Raya prancis’). Topik 1 dan 1a-x masuk pembicaraan melalui “There + BE + ITEM”.
                     Contoh 24 :
(g) I mean, in them days there was no thing as rek as relief
‘Maksud saya, pada zaman mereka tidak ada barang semacam seperti rel seperti relief.’
(h) You had to make a livin, y’know.
‘Kamu harus manecari nafkah, kamu tahu.’
(i)   And they had free soap houses.
‘dan mereka mempunyai rumah sabun gratis.’
(j)   There’s place up on Francis Avenue here, oh about three miles up.
‘ada suatu tempat di jalan Prancis, kira-kira 3 ml lebih.
(k) That’s still in existence yet.
‘Hal ini masih ada.’
(l)   They se-they go in there and they make give you soap, for free.
‘Mereka se-mereka masuk ke sana dan mereka memberi sabun gratis’.
          Pembicaraan mulai dengan kontruksi “There + BE + ITEM” yang mencatat selain keberadaan dari “relief” (topik 1). Setelah memulai alternatif “relief” (cb) you had to make a livin, y’know), dia menyatakan bahwa satu jenis bantuan adalah “free soap houses” (rumah sabun gratis): and they had free soap houses (c). Meskipun free soap houses” (topik 1a) merupakan seperangkat anggota “relef” kategori yang lebih besar (topik 1), topik itu juga sebuah kategori yang dapat dikhususkan lebih lanjut. Ini persis seperti yang terjadi pada (d) sampai (f): pembicara menyebutkan dulu sebuah rumah sabun secara khusus (topik 1a-x) dengan format “There + BE + ITEM” (d), dan menyediakan dua properti dan rumah sabun itu (e,f). Jadi, “There + BE + ITEM) memberi pengantar topik 1 (“relief) dan membantu menggeser topik dari 1a (“soap house”) sampai topik yang lebih khusus 1a-x (“a place up on Francis Avenue here”).
  1. Definisi Analisis Variasi
Ancangan analisis variasi digunakan dalam bidang linguistik. Banyak permasalahan yang tertuju pada variasionis yaitu permasalahan yang sudah diketahui linguis pada umumnya, misalnya dalam permasalahan perubahan linguistik. Riset variasionis terhadap unit-unit dalam wacana yang membebani secara sistematis dan terpola memiliki hubungan satu dengan yang lain. Ancangan
Analisis variasi adalah realitas sosial tetapi juga membawa pada sebuah pengertian mengapa narasi telah memberikan sumber data yang segar untuk analisis: narasi adalah unit wacana dengan susunan yang baik teratur yang bebas pada bagaimana mereka terlibat dalam lingkup pembicaraan. Contoh narasi yaitu :
“Salah satu yang paling dramatis cerita bahaya kematian (danger-of-death) yang dituturkan oleh seorang pensiunan pegawai pos pada Negara Bagian Timur. Kakaknya dibacok kepalanya dengan pisau. Dia mengambil kesimpulan : Dan dokter hanya berkata,”ini hanyalah dilebih-lebihkan” dan dia berkata,” dan kamu telah mati.” (Labov, 1972b : 387).
Ancangan variasionis pada wacana adalah ancangan linguistic yang mempertimbangkan konteks sosial pada metodologi tertentu dan keadaan analisis meskipun unit wacana seperti narasi adalah sensitif untuk konteks sosial yang diceritakan dan pokoknya dari nilai pembicara dan pengalaman yang subjektif, struktur cerita dapat dianalisis terpisah dari caranya dan ditempatkan secara lokal. Analisis variasionis dari wacana lainnya daripada narasi menunjukkan perpisahan yang sama antara bahasa dan kehidupan sosial- keengganan untuk menghubungkan dua sistem dasar yang saling berhubungan (bandingkan, sosiolinguistik interaksi, etnografi komunikasi, analisis percakapan).
Simpulan :
Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa ancangan kajian wacana terdiri dari enam yaitu tindak tutur, etnografi komunikasi, sosiolinguistik interaksional, kajian pragmatik, analisis percakapan, dan analisis variasi. Di sini kami membahas hanya membahas pragmatik, analisis percakapan dan analisis variasi. Pragmatik adalah studi tentang bagaimana menggunakan atau mengikutsertakan pemakai tanda atau penerima tanda pada saat memaparkan (pengonstruksikan dari interpretan) tanda itu sendiri. Ada 2 konsep pokok dalam kajian pragmatic menggunakan model Grice yaitu makna tutur dan prinsip kerjasama.
Analsis percakapan merupakan salah satu pendekatan analisis wacana dalam disiplin ilmu sosiologi. Dalam praktik analisisnya, analisis percakapan memperhatikan masalah pranata sosial dan cara kerja bahasa dalam membentuk pranata sosial serta cara konteks sosial membentuk bahasa. Schffrin (1994) mengemukakan adanya analisis sampel: “ There + Be + ITEM “. Analisis sampel sendiri terbagi lagi menjadi (a) “penyebutan,” “There + Be + ITEM” dan pasangan berdekatan, (b) “There + Be + ITEM” dan organisasi giliran pada berbicara, (c) “There + Be + ITEM” dan orgnisasi topik.
Analisis variasi sendiri adalah relaita sosial tetapi juga membawa pada sebuah pengertian mengapa narasi telah memberikan sumber data yang segar untuk dianlisis.
Daftar pustaka :
Schiffrin, Deborah. Approaches to Discourse. USA: Blackwell Publishing, 1994.
1]Deborah Schiffrin, Approaches to Discourse (USA: Blackwell Publishing, 1994), h. 232.
[2]Talbot J. Taylor dan Deborah Cameron, Analysing Conversation (Oxford: Pergamon Press,1987), h. 101.
[3]Deborah Schiffrinh, op.cit., h. 239


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKS, KOTEKS, dan KONTEKS

JENIS WACANA BERDASARKAN TUJUAN KOMUNIKASI

JENIS-JENIS WACANA Berdasarkan Saluran Komunikasi dan Peserta Komunikasi