PRASYARAT WACANA : KOHESI, KOHERENSI, dan TOPIK

PRASYARAT WACANA : KOHESI, KOHERENSI, dan TOPIK
Oleh  Pramedya  Octaviani
A.     PENDAHULUAN
Pembahasan mengenai wacana tak luput dengan pembentukan kalimat, kata serta topik pembahasan yang terdapat pada wacana. Penyusunan wacana yang tepat sebaiknya menggunakan konjungsi  dan tata kalimat yang mempunyai hubungan antara kalimat sebelumnya dengan sesudahnya, selain tata kalmiat dan penggunaan konjungsi yang tepat, penyusuanan wacana juga memiliki gagasan utama atau topik bahasan yang akan dituliskan dalam sebuah paragraf, topik disini berfungsi sebagai batasan persoalan yang akan dibahas, agar pembahasan yang terdapat dalam wacana tidak melebar. Sering ditemukan sebuah bacaan atau paragraf yang tidak memiliki keterkaitan antara kalimat sebelumnya dengan kalimat sesduahnya, ditambah lagi dengan pembahasan yaang cukup bertele-tele yang sedikit membingungkan pembaca dalam memperoleh gagasan utama, oleh karena itu pembahasan kali ini yakni kohesi, koherensi, dan topik, untuk lebih jelasnya berikut penjelasan mengenai kohesi, koheresi dan topik.
B.     KOHESI
Gutwisnky, 1976 : 26 (Tarigan, 2009 : 93), kohesi merupakan  organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disususun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa hohesi adalah hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu.
Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa. Kohesi leksikal artinya kepaduan bentuk sesuai dengan kata.
1.                       Kohesi gramatikal meliputi:
a.       Referensi (pengacuan), merupakan pengacuan satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat dari acuannya, referensi terbagi atas:
ü  Referensi eksofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di luar teks wacana. Contoh: Itu matahari, kata itu pada tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu “benda berpijar yang menerangi alam ini”.
ü  Referensi endofora yaitu pengacuan satuan lingual yang berada di dalam teks wacana. Referensi endofora terbagi atas:
·         Referensi anaphora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan terlebih dahulu, mengacu yang sebelah kiri.
·         Referensi katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu yang sebelah kanan.

b.      Substitusi ( penggantian), diartikan sebagai penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk  memperoleh unsur pembeda. Substitusi dilihat dari satuan lingualnya dapat dibedakan atas:
ü  Substitusi nominal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata benda. Contoh: Memang Soni mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Surakarta. Pacarnya itu memang cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
ü  Substitusi verbal yaitu penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata kerja. Contoh: Soni berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke dokter kemarin sore. Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia juga tidak lupa berdoa dan selalu berikhtiar pada allah.
ü  Substitusi frasa yaitu penggantisn satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa frasa. Contoh: Hari ini hari minggu. Mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok Nenek di desa.
ü  Substitusi klausal yaitu penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa klausa. Contoh:
Nida: jika perubahan yang dialami oleh azam tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya, mungkin hal itu dikarenakan oleh kenyataan bahwa orang –orang tesebut banyak yang tidak sukses seperti azam.
Barik   : tampaknya memang begitu!
c.       Elipsis atau pelesapan, adalah pelesapan satuan lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Contoh: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih. Kalimat kedua yang berbunyi terima kasih merupakan elipsis. Unsur yang hilang adalah subjek dan predikat. Kalimat tersebut selengkapnya berbunyi: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini. Saya mengucapkan terima kasih.
d.      Konjungsi (perangkaian), adalah kohesi gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan unsure yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan paragraf.
Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
ü  Sebab-akibat. Konjungsi yang digunakan antara lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh karena itu, dengan demikian dan sebagainya.
ü  Pertentangan. Konjungsi yang digunakan yaitu tetapi dan namun.
ü  Kelebihan atau  eksesif ditandai dengan konjungsi malah.
ü  Perkecualian atau eksepsif ditandai dengan konjungsi kecuali.
ü  Tujuan. Konjungsi yang digunakan yaitu: agar dan sehingga.
ü  Penambahan atau aditif. Konjungsi yang digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu.
ü  Pilihan atau alternative. Konjungsi yang digunakan yaitu atau dan apa.
ü  Harapan atau optatif. Konjungsi yang digunakan yaitu semoga, moga-moga.
ü  Urutan atau sekuential. Konjungsi yang digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula.
ü  Syarat. Konjungsi yang digunakan yaitu: apabila dan jika.
ü  Cara. Konjungsi yang digunakan yaitu: dengan cara.
2.    Kohesi leksikal yaitu perpaduan bentuk dalam struktur kata. Kohesi leksikal meliputi:
a.      Pengulangan atau repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk mempertahankan hubungan konsesif antar kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan mengulang satuan lingual.
Contoh: Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tidak terbatas ini.
b.   Sinonimi
Contoh: Hari pahlawan diperingati tiap 10 November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka selalu dikenang sepanjang masa.
c.       Antonim
Contoh: Dalam rangka menyambut peringatan kemerdekaan Republic Indonesia, warga setempat mengadakan kerja bakti. Bagi yang putrisebagian besar membawa sapu, sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek maupun kakek ikut serta meramaikan peringatan tersebut.
d.         Hiponim
Contoh: Setiap hari Anita menyiram bunga di taman. Bermacam-macam bunga diantaranya mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
e.    Kolokasi
Contoh: Bermula dari goresan bolpoin pada selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang karena banyak dimuat dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa, namanya menjadi terkenal.
f.       Contoh: Setiap hari aku belajar dengan rajin. Bu Narti sebagai guruku selain  mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga mengajarkan pendidikan moral.

C.    Koherensi

Sebuh kamus besar, dapat dibaca keterangan mengenai koherensi. Koherensi merupakan keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya sehingga kalimat tersebut mempunyai kesatuan makna yang utuh (Amir Purba: 2007:http://dictum4magz.wordpress.com).
Yang termasuk unsur-unsur koherensi meliputi:
1.    Penambahan, yang berupa: dan, juga, lagi pula, selanjutnya, dll.
2.    Repetisi atau pengulangan
3.    Pronomina
4.    Sinonimi
5.    Totalitas Bagian

D.    Topik

Sebuah wacana mengungkapkan satu bahasan atau gagasan. Gagasan tersebut akan diurai, membentuk serangkaian penjelasan tetapi tetap merujuk pada satu topik. Sehingga topik yang diangkat atau yang dimaksud memberikan suatu tujuan. Tujuan-tujuan yang teradapat dalam wacana, dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis wacana. Seperti wacana persuasif, tujuannya untuk mempengaruhi pembaca. Atau bisa berupa simbol huruf P pada rambu-rambu lalu lintas, memberikan tujuan menginformasikan pengguna jalan, bahwa tempat bersimbol P, adalah tempat parkir.
Contoh (1) bukan merupakan wacana atau percakapan. Sepasang ujaran itu merupakan salam (tegur) dan jawaban salam. Kedua ujaran itu merupakan awal terjadinya percakapan. Selama salam itu tidak dilanjutkan, pasangan ujaran itu tidak dapat digolongkan sebagai wacana percakapan sebab penggalan wacana seperti itu tidak mempunyai topik. Dengan demikian, jelas bahwa topik (wacana) merupakan bagian yang penting dalam sebuah wacana percakapan.
Seperti tampak dalam percakapan sehari-hari, topik dalam wacana percakapan sering berganti-ganti. Dalam sebuah percakapan, peserta dapat membicarakan beberapa topik secara bergantian. Bahkan, Samsuri (1988:17-20) menyatakan bahwa dua orang peserta percakapan dapat berbicara dengan dua topik yang berbeda. Jelasnya, dalam satu peristiwa pembicaraan, para peserta percakapan dapat mengembangkan topik yang berbeda. Di dalam peristiwa percakapan itu, peserta berusaha mengembangkan topiknya masing-masing. Contoh :
Amir          :”Kenaikan rekening listrik ini merepotkan juga.”
Bayu          :”Listrik kami sering terganggu. Mungkin ada orang yang menggaet kabel.”
Amir          :”Kabel dirumah kami sudah 25 tahun umurnya. Bisa konslet, katanya”
Bayu          :”Korslet terjadi di tetangga semalam. Seluruh daerah sana jadi gelap. Repot juga, sebab ada anak kecil.”
Terdapat suatu kohesi dalam percakapan di atas, karena ujaran berikutnya seakan-akan menyatakan sesuatu yang disebut dalam ujaran sebelumnya, tetapi karena ujaran itu sebenarnya tidak membicarakan topik yang dikemukakan oleh ujaran sebelumnya, terjadilah ketidakselarasan pada isi wacana. tidak terhindarkan karena tiap pembicara sudah ada keinginan menyampaikan topik yang merupakan sesuatu yang telah dialaminya, yang dianggap emarik untuk disampaikan kepada orang lain (Samsuri, 1988:21).
Topik berbeda dengan judul dan tema. Judul mengacu pada pada suatu nama atau identitas sebuah wacana. Judul sebuah wacana kadang-kadang tidak mencerminkan isi yang terkandung dalam wacana tersebut. Pada wacana fiksi, pada umumnya, judul hanya sebagai nama, misalnya Kabut Sutera Ungu, Siti Nurbaya, sebaliknya dalam wacana non fiksi, biasanya, judul mencerminkan isi wacana, misalnya Understanding Second Language Aquicsation, Filsafat Ilmu, dan sebagainya. Judul juga digunakan untuk memberi identitas bab, artikel, cerpen, dan sebagainya.
Selanjutnya, tema bersifat abstrak. Dalam pengertian umum, tema merupakan ide senral sebuah karya atau aktivitas. Ide sentral itu dapat melingkupi keseluruhan isi atau aktivitas yang dilakukan dalam tema tersebut. Misalnya dalam ungkapan, kawin paksa merupakan tema karya sastra tahun 19920-an atau dalam memperingati hari bumisedunia melaksanakan lomba karya tulis yang bertema penyelamatan bumi. Biasanya, tema dirumuskan dalam frase atau kalimat yang bersifat umum. Sebaliknya, topik mengacu pada pengertian yang lebih konkrit. Topik dapat menjadi dari bagian dari tema dan juga bagian dari judul. Namun, perbedaan tema dan topik tidak dapat dijelaskan secara tegas. Keduanya dapat berimpitan dan tidak mempunyai batas.







E.      PENUTUP
Berdasarkan materi yang telah dijelaskan dapat ditarik kesimpulan bahwa kohesi menurut Gutwisnky, 1976 : 26 (Tarigan, 2009 : 93), merupakan  organisasi sintaksis, merupakan wadah kalimat-kalimat disususun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti bahwa hohesi adalah hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal. Koherensi adalah kekompakan hubungan antar kalimat dalam wacana. Koherensi juga hubungan timbale balik yang serasi antar unsure dalam kalimat (Keraf, 2005:30). Sedangkan topik menurut Howe (1983:5) mengatakan bahwa topik itu merupakan syarat terbentuknya wacana percakapan.


SUMBER :
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa Grup.
Dedy, dkk. 2011. Analisis Wacana. Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang
Rani, dkk. 2006. ANALISIS WACANA. Malang: Bayumedia Publishing
Samsuri. 1988. ANALISIS BAHASA. Jakarta: Erlangga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKS, KOTEKS, dan KONTEKS

JENIS WACANA BERDASARKAN TUJUAN KOMUNIKASI

JENIS-JENIS WACANA Berdasarkan Saluran Komunikasi dan Peserta Komunikasi