PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR, INFERENSI, DAN DIEKSIS

PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR, INFERENSI, DAN DIEKSIS
Pramedya Octaviani
NIM 156150

Pendahuluan
Wacana merupakan unit kebahasaan yang lebih besar dari pada kalimat dan klausa dan mempunyai hubungan antara unit kebahasaan yang satu dengan yang lain. Atau dengan kata lain, wacana merupakan satuan bahasa terlengkap dalam hirarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk wacana yang utuh. Sehingga dalam bahasan kali ini akan membahas mengenai pragmatik.
Kajian Teori
Praanggapan
Presuposisi atau praanggapan berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang lawan bicara atau yang dibicarakan. Praanggapan memegang penting dalam menetapkan keruntutan (Koherensi) di sebuah wacana. Menurut Filmore (1981) dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkat-tingkat komunikasi yang implisit dan eksplisit, ujaran dapat dinilai tidak relevan atau salah. Bukan hanya dilihat dari segi cara pengucapan peristiwa yang salah deskripsinya, tetapi juga cara membuat praanggapan yang salah. Praanggapan yang tepat dapat mempertinggi ilmu komunikatif sebuah ujaran yang digunakan. Semakin tepat praanggapan yang dipotensikan maka semakin tinggi nilai komunikasi suatu ujaran.
Menurut Chaika (1982:76), dalam beberapa hal, makna wacana dapat dicari melalui praanggapan. Chaika mengacu pada makna yang tidak dinyatakan secara eksplisit, contoh: Ayah saya datang dari Surabaya. Keterangan Praanggapan:
1. Saya mempunyai ayah.
2. Ayah ada di Surabaya.
Menurut Leech (1981:288), praanggapan haruslah dianggap sebagai mendasar kelancaran wacana yang komunikatif. Apabila dua orang sedang terlibat dalam suatu percakapan, mereka saling mengisi tentang berbagai macam pengetahuan terhdap situasi saat itu, saat percakapan berlanjut, konteksnya berlanjut, maka unsur-unsur semakin bertambah. Contoh dua praanggapan yang mendasari berbeda:
Apakah si Boncel masih pemabuk?
Si Boncel masih meneruskan kebiasaan sebagai seorang pemabuk.
Keterangan contoh: a. mengandung praanggapan bahwa si Boncel biasannya mabuk pada waktu lampau. Berbeda dengan contoh b. mengandung praanggapan Si Boncel biasa mabuk pada waktu lampau dan Si Boncel adalah orang yang pemabuk pada masa kini.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa praanggapan merupakan kondisi yang dianggap ada sebelum membuat ujaran, maka diharapkan praanggapan tidak berpengaruh oleh upaya apapun untuk menghasilkan keadaan yang di uraikan oleh sebuah ujaran. Hal ini masih merupakan suatu praanggapan ujaran. Oleh karena itu fungsi praanggapan ialah membantu mengurangi hambatan respon terhadap respon penafsiaran suatu ujaran.
Implikatur
Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah (Brown dan Yule, 1983:31). Contoh: Jika kita mendengar ucapan “Panas di sini bukan?” maka secara implisit penutur menghendaki agar mesin pendingin dinyalakan atau fentilasi udara dibuka. Menurut Grice (1975), dalam pemakaian bahasa terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh ‘arti konvensional kata-kata yang dipakai’. Contoh: Dia orang Madura karena itu dia pemberani. Keterangan Contoh: Penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (Pemberani)  disebabkan oleh ciri lain (Orang Madura), tetapi bentuk ungkapan secara konvesional berimplikasi bahwa hubungan itu ada. Jika individu yang dimaksud itu orang Madura dan tidak pemberani, implikaturnya yang keliru, tetapi ujarannya tidak salah. Contoh lain: Kata wanita, mengimplikasikan informasi mempunyai rambut, hidung, atau bibir sehingga hubungan antarkalimat dapat koheren.
Contoh :
a. Saya bertemu seorang gadis.
b. Rambutnya panjang, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.   

Chomssky (1972), satu kemampuan yang dapat kita lakukan adalah penguasan kaidah-kaidah tersebutlah yang mampu mempertimbangkan secara intuitif bahwa suatu ujaran yang diucapkan mitra tutur kita itu apik atau tidak apik, dan mampu mempertimbangkan fakta sintaksis bahasa yang diguakan. Seorang penutur bahasa Indonesia, tentunya dapat menyatakan secara intuitif bahwa kalimat dibawah ini tidak apik dan apik dalam bahasa Indonesia, Contoh:
Anak-anak berlari-lari jalan.
Laki-laki itu tidak membunuh isitrinya di tempat tidur.
Kompetensi linguistik itu merupakan kemampuan dasar utama untuk memahami implikatur dalam percakapan. Tanpa memiliki kompetensi lunguistik, seorang penutur akan sulit dapat, memaknai ujaran yang mengandung makna implikatur. Hal itu terbukti pada proses pemahaman implikatur yang terdapat pada karya sastra asing bagi para pembelajaran bahasa. Para pembelajara yang tidak memiliki kompetensi linguistik yang memadai akan mengalami frustasi dalam memahami implikatur dalam karya sastra asing.

Istilah implikatur berantonim dengan eksplikatur. Menurut Grice (Brown & Yule,1986:31), istilah implikatur diartikan sebagai “What a speaker can imply, suggest, or men, as distinict frm what a speaker literally says” Dari pengertian tersebut, diketahui bahwa implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikasur). Menggunakan implikatur dalam berkomunikasi berarti meinyatakan sesuatu secara tidak langsung. Contoh: konteks : Udara sangat dingin. seorang suami yang (mengatkan pada istrinya yang sedang berada disampingnya.)
Suami : “Dingin sekali.”
Transrip ujaran suami yang tidak disertai konteks yang elas dapat ditafsir bermaca-macam, antara lain:
Permintaan pada istrinya untuk mengambilkan baju hangat, jaket atau selimut atau minuman hangat untuk mengahatkan tubuhnya.
Permintaan kepada istrinya untuk menutup jendela agar angin tidak masuk kamar sehingga udara di dalam ruang menjadi hangat.

Dieksis
Dalam  KBBI (2005:245), dieksis diartikan hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata yang mengacu kepada persona, waktu, dan tempat suatu tuturan. Dalam kegiatan berbahasa. kata-kata atau frasa-frasa yang mengacu kepada beberapa hal tersebut penunjukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, saat dan tempat dituturkannya kata-kata itu. Kata-kata seperti saya, dia, kamu rnerupakan kata-kata yang penunjukannya berganti-ganti. Rujukan kata-kata tersebut barulah dapat diketahui jika diketahui pula siapa, di mana, dan pada waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Dalam bidang linguistik istilah penunjukan semacam itu disebut dieksis (Yule, 2006:13).
Kata deiksis berasal dari kata Yunani deiktikos yang berarti 'hal yang menunjuk secara 1angsung'. Dalam bahasa Yunani, dieksis merupakan istilah teknis untuk salah satu hal mendasar yang dilakukan dalam tuturan. Sedangkan isti1ah deiktikos yang dipergunakan oleh tata bahasa Yunani da1am pengertian sekarang kita sebut kata ganti demonstratif.
Dari definisi di atas, bisa disimpulkan bahwa dieksis adalah bentuk bahasa baik berupa kata maupun lainnya yang berfungsi sebagai penunjuk hal atau fungsi tertentu di luar bahasa. Dengan kata lain, sebuah bentuk bahasa bisa dikatakan bersifat dieksis apabila acuan/rujukan/ referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti pada siapa yang menjadi si pembicara dan bergantung pula pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Jadi, dieksis merupakan kata-kata yang tidak memiliki referen yang tetap. Seperti contoh dialog berikut ini:
Ani : Hari ini saya akan pergi ke Surabaya. Kalau kamu?
Ali :  Saya santai di rumah.
Kata ‘Saya’ di atas sebagai kata ganti dari dua orang. Kata pertama adalah kata ganti dari Ani. Sedangkan kedua adalah kata ganti Ali. Dari contoh di atas, tampak kata ‘saya’ memiliki referen yang berpindah-pindah sesuai dengan konteks pembicaraan serta situasi berbahasa.
Dalam wacana terdapat macam-macam dieksis yaitu:
Dieksis Wacana
Digunakan untuk mengacu pada bagian tertentu yang lebih luas (baik teks tertulis maupun teks lisan) tempat terjadinya ungkapan-ungkapan. Teks tertulis di samping menempati ruang juga di susun di baca pada saat tertentu dalam waktu khuus. Maka sudah biasa bila dieksis wacana harus di ungkapkan melalui unsur linguistic yang sama yang dgunakan untuk mengungkapkan dieksis ruang tempt dan waktu.
Dieksis Tempat
Adalah yang di uraikan di antara banyak pramater yang sama dan berlaku pada dieksis waktu. Hal ini disebabkan karena acuan pada tempat bersifat absolut atau relatif. Acuan absolut pada tempat menempatkan objek atau orang pada lisan khusus sedangkan acuan relatif menempatkan orag dan tempat dalam kaitannya satu sama lain dan dalam kaitannya dengan penutur.
Dieksis Waktu
Dieksis ini sering di kodekan dalam Bahasa Inggris dalam berbagai kata keterangan seperti ‘now’ dan ‘then’ dalam istilah penanggalan atau kalender seperti ‘yesterday’, ‘today’, dan ‘tomorrow’. Namun karena mengkodekan unit-unit waktu yang berbeda maka istilah ini dapat melakukannya dengan suatu cara yang mengacu pada bagian-bagan yang lebih besar atau lebih kecil dalam unit tersebut.
Deiksis Persona
Deiksis persona berkaitan dengan peran peserta yang terlibat dalam peristiwa berbahasa, ini biasanya berupa kata ganti orang. Kata ganti orang itu ada tiga kategori yaitu orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Kata ganti orang pertama merupakan rujukan pernbicara kepada dirinya sendirin. Dengan kata lain kata ganti persona pertama rnerujuk pada orang yang sedang berbicara.
Deiksis Sosial
Dieksis sosial mengungkapkan perbedaan-perbedaan kemasyarakatan  yang terdapat antara para partisispan yang dalam peristiwa berbahasa, tertutama yang berhubungan dengan aspek budayanya. Adanya deiksis ini menyebabkan kesopanan atau etiket berbahasa. Misalnya suatu masyarakat Sunda menganggap kata ‘tuang’ dan kata ‘emam’ (makan) yang menunjukkan adanya perbedaan sikap dan kedudukan sosial di antara pembicara pendengar dan orag yang bersangkutan. Tapi, menurut masyarakat lain, dalam bahasa Sunda di kenal adanya bahasa halus dan kasar.

Dari penjelasan panjang lebar di atas dapat disimpulkan bahwa dieksis banyak kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menggunakan semua dieksis tersebut dengan tepat. Dengan perkataan lain, dalam suatu peristiwa berbahasa pemakai bahasa dituntut dapat menggunakan semua dieksis sesuai dengan kadar sosial dan santun berbahasa dengan tepat.
Deiksis juga dipandang sebagai kata yang memiliki rujukan atau acuan yang berubah ubah bergantung pada pembicara saat mengutarakan ujaran yang dipengaruhi oleh konteks dan situasi saat tuturan berlangsung (Astuti, 2015:19).
Merentik (2016:6) membagi deiksis menjadi lima bentuk, yaitu:
1.      Deiksis orang. Deiksis orang yakni pemberian bentuk menurut peran peserta dalam peristiwa bahasa saat ujaran tersebut diucapkan. Terdapat beberapa kategori dalam dieksis orang:
a.       Kategori orang pertama, yakni kategori rujukan penutur kepada dirinya atau kelompok yang melibatkan dirinya.
b.      Kategori orang kedua, yakni pemberian bentuk rujukan penutur kepada seseorang atau lebih yang melibatkan dirinya.
c.      Kategori orang ketiga, yakni pemberian bentuk rujukan kepada orang yang bukan pembicara atau pendengar ujaran itu.
2.      Deiksis tempat. Deiksis tempat yakni pemberian bentuk pada lokasi menurut peserta dalam peristiwa bahasa.
3.      Deiksis waktu. Deiksis waktu yakni pemberian bentuk pada rentang waktu teretentu saat suatu ujaran diujarkan.
4.      Deiksis wacana. Deiksis wacana yakni rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan.
5.      Deiksis sosial. Deiksis sosial yakni pemberian bentuk menurut perbedaan sosial yang merujuk pada peran peserta, khususnya aspek-aspek hubungan sosial antara pembicara atau pembicara dengan beberapa rujukan.







Inferensi
Inferensi atau inference secara leksikal berarti kesimpulan (Echols dan Hasan, 1987:320). Dalam bidang wacana, istilah itu berarti sebuah proses yang harus dilakukan pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat di dalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis (Anton M. Moeliono, Ed., 1988:358). Dalam wacana lisan yang bersifat dialogis (percakapan), makna-makna ujaran tidak hanya ditentukan olrh aspek-aspek formal bahasa (kalimat), melainkan juga oleh konteks situasional.
Bagi Gumperz (dalam Lubis, 1993:68), inferensi percakapan adalah proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Dengan cara itu, pendengar dapat menduga maksud dari pembicara dan dengan itu pula pendengar dapat memberikan responnya. Disamping aspek konteks situasional, aspek-aspek sosio-kultural juga menjadi faktor penting dalam memahami wacana inferen. Contoh:
Dwi : Ir, lihat Joko?
Irma : Nafi tadi di kantin, pak.
Ir yang dimaksud dalam percakapan tersebut adalah Irma. Peserta tutur sudah saling memahami tentang segala hal. Mereka memang satu kelas dan di antara mereka memang saling mengetahui banyak hal, termasuk dalam teman akrab atau pacar. Mereka punya simpulan yang sama bahwa di mana ada Joko biasanya disitu juga ada Nafi. Pada data, walaupun Dwi bertanya keberadaan Joko, dan jawaban Irma tidak ada nama Joko tetapi menyebut Nafi, tetap saja mereka saling paham. Mereka sama-sama tahu kalau Joko pacarnya Nafi. Proses inferensi inilah yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk mendapatkan kesimpulan yang jelas dan memiliki sifat mutlak (Surana, 2016).
Penutup
Unsur internal wacana menentukan dan mendukung penafsiran makna suatu wacana. Praanggapan lebih didukung dan ditentukan oleh unsur internal dari wacana. Jadi, unsur internal wacana menentukan dan mendukung penafsiran makna suatu wacana. Implikatur adalah maksud, keinginan, atau ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi, yang diambil dari proses penyimpulan dan penafsiran yang kebenaran dari simpulan itu tidak mutlak. Mengingat dasar dari penyimpulan dari suatu tuturan yang memiliki banyak kemungkinan.

Daftar Pustaka
Mustika, Heppy Leo. 2012. Analisis Deiksis Persona dalam Ujaran Bahasa Rusia (Suatu Tinjauan Pragmatik). Diunduh dari jurnal.unpad.ac.id Pada hari Senin, 17 April 2017.
Leech, Geoffrey. 2011. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta : Universitas Indonesia.
Surana. 2016. Presuposisi dan Inferensi dalam Percakapan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bhasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Surabaya. Lampung : Proseding Konfrensi Internasional IKABUDI VI.
Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKS, KOTEKS, dan KONTEKS

JENIS WACANA BERDASARKAN TUJUAN KOMUNIKASI

JENIS-JENIS WACANA Berdasarkan Saluran Komunikasi dan Peserta Komunikasi